Kemenkes Bikin Layanan dan Ekosistem Ramah Lansia Kekinian!

Jakarta, Maret.id — Kementerian Kesehatan memperkuat layanan dan ekosistem ramah lanjut usia melalui program terintegrasi yang bertujuan mewujudkan lansia sehat, mandiri, dan bermartabat.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menegaskan komitmen tersebut dalam sambutan pada peringatan Hari Lanjut Usia Nasional Kesehatan 2026 yang digelar di Jakarta pada 13 Juni 2026.
Penguatan Layanan Kesehatan untuk Lansia
Menurut Dante, transformasi layanan kesehatan di tingkat primer dan sekunder menjadi prioritas untuk menjawab tantangan penuaan populasi.
Ia menyebutkan bahwa sekitar 87 persen puskesmas telah bertransformasi menjadi puskesmas ramah lansia atau puskesmas santun lansia, dan upaya memperkuat layanan geriatri di rumah sakit terus berjalan.
Pengembangan Ekosistem Pendukung
Kemenkes tidak hanya fokus pada aspek medis, tetapi juga membangun ekosistem pendukung yang komprehensif, termasuk aspek sosial, ekonomi, dan teknologi.
Program-program yang dikembangkan mencakup pemberdayaan lansia, penguatan peran caregiver, serta peningkatan literasi finansial dan pemanfaatan teknologi untuk kesejahteraan lansia.
Program Pemberdayaan dan Literasi
Pemberdayaan lansia diarahkan agar kelompok usia lanjut dapat tetap produktif dan berkontribusi dalam keluarga serta masyarakat.
Upaya literasi finansial dan pelatihan pemanfaatan teknologi dimaksudkan untuk meningkatkan kemandirian lansia dalam mengakses layanan kesehatan dan pelayanan publik lainnya.
Peran Caregiver dan Keluarga
Kemenkes menekankan pentingnya peran keluarga dan caregiver sebagai bagian dari sistem pendukung utama dalam perawatan lansia.
Dukungan keluarga dinilai sebagai faktor kunci untuk meningkatkan kualitas hidup lansia dan menjamin akses berkelanjutan terhadap layanan kesehatan.
Dante menggarisbawahi bahwa kesehatan lansia bukan semata urusan medis, melainkan tanggung jawab bersama antara pemerintah, keluarga, dan masyarakat.
“Lansia sehat berarti keluarga bahagia; lansia bermartabat berarti bangsa yang beradab,” ujarnya, menekankan nilai sosial dan kebangsaan dari upaya perlindungan lansia.
Kementerian Kesehatan juga mendorong integrasi layanan antara fasilitas kesehatan primer dan layanan spesialis geriatri untuk memastikan kontinuitas perawatan.
Langkah itu dinilai penting mengingat kompleksitas masalah kesehatan pada lansia yang sering kali membutuhkan pendekatan lintas sektor.
Selain fokus pada layanan klinis, program pencegahan dan promosi kesehatan diarahkan untuk menjaga fungsi fisik dan mental lansia.
Intervensi preventif tersebut mencakup promosi gizi seimbang, aktivitas fisik terukur, serta dukungan kesehatan mental untuk mencegah isolasi dan depresi.
Para pemangku kepentingan di tingkat daerah didorong untuk mengadopsi kebijakan lokal yang mendukung lingkungan ramah lansia, seperti fasilitas publik yang aksesibel dan program sosial yang inklusif.
Kemenkes juga berencana menguatkan data dan sistem pemantauan untuk mengevaluasi capaian transformasi layanan dan program pemberdayaan lansia secara berkala.
Dengan meningkatnya proporsi penduduk lansia, upaya pemerataan layanan dan peningkatan kualitas pelayanan menjadi tantangan yang harus diatasi secara cepat dan terkoordinasi.
Kemenkes menegaskan komitmen untuk terus berkolaborasi dengan kementerian/lembaga lain, pemerintah daerah, serta organisasi masyarakat untuk mewujudkan lansia yang sehat, sejahtera, dan bermartabat.