Perajin Genteng Majalengka Berbagi Ilmu di Aceh untuk Pembuatan Genteng

[Aceh, Maret.id — Perajin genteng asal Majalengka, Jawa Barat, kini berperan sebagai mentor dalam pelatihan pembuatan genteng bagi masyarakat terdampak banjir di Aceh. Inisiatif ini dilakukan oleh Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP) RI untuk memberdayakan ekonomi lokal pascabencana.
Pelatihan Pembuatan Genteng untuk Masyarakat Aceh
Pelatihan pembuatan genteng ini menjadi salah satu langkah untuk membantu masyarakat di kabupaten Pidie Jaya yang terkena dampak banjir. Salah satu perajin, Juanda, menyatakan bahwa selama sepekan terakhir, mereka telah keliling Aceh untuk memberikan pelatihan. Kegiatan ini diikuti oleh para pelaku usaha serta perajin batu bata setempat.
Juanda menjelaskan pentingnya memanfaatkan sisa material banjir yang masih tertinggal. Pasca bencana, banyak ditemukan lumpur yang dapat diolah menjadi genteng. “Program ini bertujuan menggali potensi lokal di Aceh. Kami ingin mendorong masyarakat agar bisa mengolah limbah banjir menjadi produk yang bermanfaat,” ujarnya.
Nilai Ekonomi dari Proyek Pembuatan Genteng
Pembuatan genteng dari material sisa juga diharapkan dapat menjadi sumber penghasilan baru bagi masyarakat. Genteng yang diproduksi bisa digunakan sebagai atap untuk rumah-rumah yang terdampak banjir atau dijual kembali. “Ini adalah peluang untuk mengubah limbah menjadi nilai ekonomi,” tambah Juanda.
Ia juga menekankan perlunya dukungan dari pemerintah daerah dalam menyediakan alat-alat yang diperlukan untuk pembuatan genteng. Selain itu, keseriusan masyarakat dalam mengikuti pelatihan dan memproduksi genteng sangat penting untuk kesuksesan program ini.
Majalengka: Pusat Industri Genteng di Indonesia
Keterlibatan perajin dari Majalengka dalam program pelatihan ini bukan tanpa alasan. Majalengka, terutama kawasan Jatiwangi, dikenal sebagai pusat produksi genteng tanah liat. Pada 11 Maret 2026, Presiden Prabowo Subianto bahkan meluncurkan Program Gentengisasi di Jatiwangi, yang mencatatkan total pemesanan genteng sebanyak 24 truk dengan nilai transaksi mencapai Rp3 miliar.
Keberhasilan program ini diharapkan tidak hanya akan mengurangi dampak bencana tetapi juga menciptakan keberlanjutan ekonomi bagi masyarakat Aceh. Pelatihan ini adalah langkah penting dalam mengembangkan keterampilan dan menciptakan peluang di tengah tantangan yang dihadapi akibat bencana alam.
Dengan adanya kolaborasi antara BNPP RI dan perajin di Majalengka, diharapkan masyarakat Aceh semakin siap untuk bangkit dan mendukung pembangunan perekonomian lokal melalui inovasi dan pemanfaatan sumber daya yang ada.
