Gaya Hidup

Mei 2026 PCOS Diubah Jadi PMOS, Pengaruhnya pada Perempuan Terungkap!

Jakarta, Maret.id — Para ahli internasional sepakat mengganti istilah Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) menjadi Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS) sebagai upaya memperbaiki akurasi diagnosis dan pemahaman tentang gangguan hormonal yang kompleks itu.
Keputusan perubahan istilah ini diumumkan setelah hasil konsensus global yang dipublikasikan di jurnal The Lancet dan dipresentasikan pada pertemuan European Congress of Endocrinology di Praha pada 12 Mei 2026.

Perubahan Istilah dan Latar Belakang Sejarah

Istilah PCOS pertama kali diperkenalkan pada 1935 dan selama puluhan tahun kerap disalahpahami sebagai masalah kista ovarium.
Kata “polycystic” sering dianggap menunjukkan keberadaan kista patologis, padahal yang terekam pada ultrasonografi umumnya adalah folikel kecil yang terhenti perkembangan, bukan kista patologis.

Alasan Pergantian Nama

Nama baru PMOS dipilih untuk mencerminkan karakter penyakit yang lebih luas, yakni gangguan endokrin banyak sisi dan dampak metabolik yang signifikan.
Komponen “polyendocrine” menegaskan keterlibatan beberapa kelenjar hormon, sedangkan “metabolic” menyoroti risiko resistensi insulin, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular.

Proses Konsensus Global

Perubahan istilah ini merupakan hasil proses konsensus selama 11 tahun yang melibatkan lebih dari 22.000 orang, termasuk pasien, peneliti, dan praktisi medis dari 56 organisasi medis serta kelompok advokasi pasien.
Para peserta menilai bahwa terminologi lama telah memicu stigma, keterlambatan diagnosis, dan arah penelitian yang kurang tepat.

Definisi dan Cakupan PMOS

PMOS atau Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome didefinisikan sebagai gangguan hormonal kronis yang berdampak pada metabolisme, fungsi reproduksi, kulit, berat badan, dan kesehatan mental.
Sindrom ini menunjukkan kumpulan gejala yang bervariasi antar individu dan memerlukan pendekatan diagnosis serta penatalaksanaan yang multidisipliner.

Prevalensi Global dan Situasi di Indonesia

Data yang dipublikasikan The Lancet menyebut PMOS memengaruhi lebih dari 170 juta perempuan di seluruh dunia, atau sekitar satu dari delapan perempuan usia reproduktif.
Di Indonesia, prevalensi diperkirakan berada di kisaran 5–10 persen perempuan usia subur, yang berarti jutaan perempuan mungkin hidup dengan kondisi ini dan banyak yang belum terdiagnosis.

Faktor Risiko dan Awal Munculnya Gejala

Kondisi ini sering kali muncul sejak masa remaja bertepatan dengan dimulainya siklus menstruasi, dan faktor genetik memainkan peran penting dalam risiko seseorang mengalami PMOS.
Gaya hidup seperti pola makan tidak seimbang, kurang aktivitas fisik, dan stres kronis juga dapat memperburuk gejala dan memicu manifestasi metabolik.

Gejala Klinis dan Dampak Kesehatan

Gejala umum PMOS meliputi siklus haid tidak teratur hingga amenore, hiperandrogenisme yang menyebabkan jerawat persisten dan pertumbuhan rambut berlebih, serta kesulitan mengendalikan berat badan.
Selain itu, resistensi insulin meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan kondisi seperti akantosis nigrikans (kulit gelap pada lipatan leher atau ketiak), sementara dampak psikososial dapat berupa kecemasan dan depresi.

Implikasi bagi Diagnosis dan Pengobatan

Perubahan terminologi diharapkan mendorong pendekatan diagnosis yang lebih menyeluruh, tidak hanya berfokus pada temuan ovarium, tetapi juga evaluasi hormonal dan status metabolik pasien.
Pendekatan terapi yang direkomendasikan meliputi kombinasi intervensi gaya hidup, manajemen metabolik, serta perawatan simptomatik untuk gangguan kulit dan masalah kesuburan bila diperlukan.

Pakar kesehatan menilai bahwa pergantian istilah ini juga berpotensi mengubah arah penelitian dan kebijakan kesehatan publik sehingga layanan dapat lebih responsif terhadap kebutuhan perempuan yang terdampak.
Masyarakat medis dan pasien diharapkan aktif memperbarui pemahaman dan komunikasi tentang kondisi ini agar diagnosis lebih cepat dan perawatan lebih tepat sasaran.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button