3.084 Sekolah Sukses Direvitalisasi Pascabencana Sumatera, Mendagri Tito: Seribu Sekolah Masih Harus Direlokasi!

Jakarta, Maret.id — Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk memulihkan sektor pendidikan di kawasan yang terdampak bencana alam di Sumatera. Hingga 12 Mei 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melaporkan bahwa mereka telah menyalurkan bantuan untuk revitalisasi sebanyak 3.084 sekolah di wilayah tersebut.
Komitmen Pemerintah Terhadap Pendidikan Pascabencana
Dalam sebuah konferensi pers setelah Rapat Koordinasi Penanganan Pascabencana di DPR RI, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI) Muhammad Qodari menegaskan pentingnya perhatian pemerintah dan DPR RI terhadap bencana yang melanda Sumatera. “Rapat koordinasi ini menunjukkan komitmen besar dari Bapak Presiden dan seluruh jajaran pemerintah terhadap penanganan bencana di Sumatera,” ujar Qodari.
Menteri Dalam Negeri dan Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Tito Karnavian, menambahkan bahwa total sekolah terdampak di Sumatera mencapai 4.992. Dari jumlah tersebut, bantuan revitalisasi dan rehabilitasi telah diberikan untuk 3.084 sekolah.
Tahapan Revitalisasi dan Alokasi Anggaran
Tito menjelaskan bahwa masih terdapat lebih dari 1.000 sekolah yang belum mendapatkan bantuan revitalisasi. Proses rehabilitasi untuk sekolah-sekolah tersebut masih dalam tahap perencanaan. “Jumlah yang belum direhabilitasi bukan berarti diabaikan. Kementerian Dikdasmen akan merencanakan langkah selanjutnya untuk revitalisasi yang masih tertunda,” jelasnya.
Pemerintah juga telah mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk mempercepat pemulihan sektor pendidikan. “Anggaran yang telah dicairkan oleh Kemendikdasmen mencapai Rp2 triliun, dan masih ada sekitar Rp1,8 hingga Rp1,9 triliun lagi yang akan digunakan untuk melanjutkan pemulihan ini,” ungkap Tito.
Kesiapan Relokasi Sekolah di Zona Rawan Bencana
Di samping kerusakan sekolah, Tito menyebutkan bahwa terdapat beberapa infrastruktur lain, seperti jembatan, yang juga harus diperbaiki. Meski demikian, kegiatan belajar mengajar di sebagian besar wilayah terdampak masih berlangsung. “Beberapa sekolah masih menggunakan fasilitas sementara, khususnya di daerah yang dianggap rawan bencana tetapi tetap operasional,” tambahnya.
Tito juga menjelaskan bahwa pemerintah sedang merancang lokasi-lokasi relokasi untuk sekolah-sekolah yang terletak di zona rawan bencana. Sementara itu, di beberapa sekolah lainnya, para siswa masih harus menggunakan fasilitas darurat atau menumpang di sekolah terdekat.
Dengan langkah-langkah ini, pemerintah berharap dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan mendukung pemulihan masyarakat di daerah terdampak bencana. Strategi kooperatif antara berbagai kementerian dan lembaga diharapkan dapat memberikan hasil yang optimal bagi siswa dan pendidik di seluruh Indonesia, terutama di Sumatera.





