Pemerintah Revitalisasi 3.084 Sekolah Terdampak Bencana di Sumatra Segera!

Jakarta, Maret.id — Hingga 12 Mei 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menyalurkan bantuan revitalisasi kepada 3.084 sekolah yang mengalami kerusakan akibat bencana, dari total 4.992 sekolah terdampak di Pulau Sumatra. Langkah ini merupakan upaya pemerintah untuk memastikan layanan pendidikan tetap berjalan di daerah yang terpengaruh bencana.
Pernyataan Pemerintah dan DPR
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI), Muhammad Qodari, menggarisbawahi pentingnya percepatan penanganan sekolah terdampak. “Rapat koordinasi ini merupakan perhatian besar dari Bapak Presiden, pemerintah, dan DPR RI terhadap bencana yang terjadi di Sumatra,” jelas Qodari dalam konferensi pers usai Rapat Koordinasi Penanganan Pascabencana di DPR RI pada Senin, 25 Mei 2026.
Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra, Tito Karnavian, mengungkapkan bahwa bantuan yang diberikan mencakup renovasi yang telah dilaksanakan dengan nilai lebih kurang Rp3 triliun. Selain itu, Tito juga menegaskan bahwa lebih dari seribu sekolah yang belum direhabilitasi tetap menjadi prioritas pemerintah untuk ditangani dalam perencanaan pembangunan lanjutan.
Dukungan Anggaran untuk Rehabilitasi
Dalam rangka mendukung pemulihan pendidikan, pemerintah telah mengeluarkan anggaran besar. Tito menyebutkan, “Anggaran yang sudah dikeluarkan Kementerian Dikdasmen mencapai Rp2 triliun yang sudah dicairkan. Masih ada sekitar Rp1,8 hingga Rp1,9 triliun yang direncanakan untuk digunakan.”
Upaya pemulihan ini juga mencakup infrastruktur pendukung, seperti jembatan, yang masih memerlukan penanganan lanjutan. Meski demikian, kegiatan belajar mengajar di sebagian besar wilayah terdampak tetap berlangsung dengan berbagai penyesuaian yang diperlukan.
Kesiapan Lokasi Relokasi
Menurut Tito, pemerintah memperhatikan kesiapan lokasi relokasi untuk sekolah-sekolah yang berada di zona rawan bencana. Sementara menunggu pembangunan permanen, sebagian siswa sementara mengikuti pembelajaran di fasilitas darurat atau menumpang di sekolah lain. “Ada juga yang menumpang di sekolah yang lain. Ada juga yang di kelas darurat,” jelasnya.
Situasi ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memastikan bahwa pendidikan tidak terputus, meskipun dalam situasi sulit. Dengan adanya bantuan yang terus dicurahkan kepada sekolah-sekolah yang terdampak bencana, diharapkan proses rehabilitasi dapat dilanjutkan tanpa ada yang terabaikan.





