Gaya Hidup

Warga Terapkan PHBS, Hambat Penyebaran Hantavirus!

Jakarta, Maret.id — Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Kepulauan Seribu mengimbau warga untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara konsisten sebagai upaya pencegahan terhadap penyebaran Hantavirus. Imbauan ini disampaikan menyusul kekhawatiran bahwa virus zoonosis tersebut dapat menular melalui tikus yang sering hidup di sekitar pemukiman manusia.

Imbauan dari Sudinkes Kepulauan Seribu

Kepala Sudinkes Kepulauan Seribu dr. Ghamal Ahmad Pramana menegaskan pentingnya langkah pencegahan yang maksimal agar risiko penularan dapat ditekan. Ia meminta masyarakat proaktif menjaga kebersihan lingkungan dan melapor kepada petugas bila ditemukan tanda keberadaan tikus di lingkungan rumah.

Jalur Penularan yang Perlu Diwaspadai

Hantavirus umumnya menular ke manusia melalui jalur pernapasan saat seseorang menghirup aerosol yang terkontaminasi urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi. Selain itu, infeksi juga dapat terjadi melalui kontak langsung pada kulit yang luka atau melalui gigitan tikus sehingga kontak fisik dengan rodensia harus dihindari.

Gejala Klinis: HPS dan HFRS

Menurut Sudinkes, virus ini dapat memicu dua kondisi berat yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang ditandai demam, batuk, sesak napas, dan penumpukan cairan di paru-paru. Sementara Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) ditandai demam, sakit kepala, mual, nyeri perut, perdarahan pada mata, hipotensi, serta gangguan fungsi ginjal akut.

Langkah Pencegahan di Rumah

Masyarakat dianjurkan menjaga kebersihan lingkungan dengan mengelola sampah secara tertutup serta menutup lubang atau celah yang menjadi akses masuk tikus ke rumah. Bahan makanan harus disimpan dalam wadah kedap dan tahan tikus, dan penggunaan perangkap atau jasa pengendalian hama disarankan bila infestasi ditemukan.

PHBS dan Praktik Sehari-hari

PHBS yang dimaksud meliputi kebiasaan cuci tangan dengan sabun, membersihkan sisa makanan, serta menjaga sanitasi area dapur dan gudang. Langkah-langkah sederhana ini dinilai efektif meminimalkan kontak tidak sengaja antara manusia dan rodensia pembawa virus.

Sudinkes juga menegaskan agar warga tidak mengangkat bangkai atau mengusir tikus dengan tangan kosong karena risiko paparan masih tinggi. Bila perlu menangani bangkai, warga diminta menggunakan alat pelindung seperti sarung tangan dan masker atau mengontak petugas pengendalian hama.

Pihak kesehatan setempat melakukan pemantauan dan verifikasi tren kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) serta pneumonia sebagai bagian dari sistem deteksi dini terhadap kemungkinan kejadian HPS. Kegiatan ini melibatkan koordinasi antar puskesmas, rumah sakit, dan dinas terkait untuk memperkuat kewaspadaan.

Warga diimbau melakukan deteksi dini dengan segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat bila mengalami gejala awal seperti demam tinggi disertai gangguan pernapasan. Penanganan medis cepat dan tepat menjadi kunci untuk mengurangi risiko komplikasi berat pada pasien yang terinfeksi.

Untuk memperluas jangkauan edukasi, Sudinkes meningkatkan promosi kesehatan dengan menyasar kelompok masyarakat melalui sosialisasi lapangan dan media lokal. Keterlibatan lintas sektor diharapkan memperkuat upaya pencegahan sehingga informasi tentang PHBS dan langkah mitigasi dapat tersebar lebih luas.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button