Rocky Gerung Desak Pembentukan Blok Politik Kiri untuk Melawan Kepentingan!

Jakarta, Maret.id — Seiring bergulirnya waktu, banyak pihak mulai menilai bahwa Reformasi yang terjadi di Indonesia pada akhir 1990-an dianggap gagal. Pendapat tersebut diutarakan oleh Rocky Gerung, seorang tokoh publik, dalam sebuah dialog di Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta, yang disiarkan ulang melalui saluran Youtube Mahfud MD pada Selasa, 26 Mei 2026.
Perdebatan tentang Makna Reformasi
Rocky mengungkapkan, penilaian tentang kegagalan Reformasi tidak bisa dilepaskan dari cara berpikir masyarakat yang saat itu berada dalam posisi transisi dari sistem otoriter menuju demokrasi. “Intinya kita menyesalkan, kenapa gagasan awal revolusi itu dibatalkan oleh keraguan-keraguan kita untuk melangkah satu kali dari sistem otoriter pergi kepada demokrasi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Rocky menjelaskan bahwa perpindahan ini memicu pergolakan politik yang saat ini dirasakan, di mana terdapat pertentangan antara berbagai pihak. Namun, ia menyoroti fenomena di mana banyak individu enggan untuk mengambil posisi sebagai oposisi. “Jadi ada fiksasi di kepala kita. Apa yang mendorong kita? Nggak ada. Ya (hanya) oposisi. Oposisi artinya berdiri di kiri,” tuturnya.
Mental Block dalam Politik
Rocky menganalogikan sikap masyarakat yang enggan beroposisi dengan perilaku seseorang yang menginginkan pengakuan tanpa dasar yang kuat. Ia menggambarkan situasi ini dengan ungkapannya, “Masuk cafe pakai La Sportiva (jenis sepatu gunung), padahal nggak pernah naik gunung, pamer La Sportiva. Akhirnya cafenya dikasih pasir, kerikil, supaya kelihatannya tuh sepatunya berguna.” Melalui analogi tersebut, ia menegaskan bahwa ada mental block dalam diri masyarakat yang memengaruhi keberanian untuk terlibat dalam oposisi politik.
Rocky juga mengcritik mereka yang hanya mengeluarkan kritik tanpa disertai tindakan nyata. “Sejarawan, analis politik, mengucapkan ulang apa yang ada di koran, marah ke segala arah. Artinya, marah tanpa arah,” ujarnya. Menurut Rocky, jika ada keinginan untuk mengkritik keadaan saat ini, seharusnya hal itu disertai dengan usaha untuk membentuk blok politik yang lebih terarah.
Urgensi Membentuk Blok Politik Kiri
Oleh karena itu, Rocky menyerukan perlunya keberanian untuk membentuk blok politik kiri sebagai sarana untuk menyuarakan kritik dan mendukung perubahan yang lebih konkret. “Kalau mau marah, bikin blok, blok politik kiri,” tegasnya. Dalam pandangannya, keberadaan oposisi yang kuat adalah kunci untuk membangun sistem demokrasi yang sehat dan menghindari stagnasi politik.
Melalui dialog tersebut, Rocky Gerung menekankan pentingnya sikap aktif dari masyarakat dalam menghadapi tantangan politik yang ada, agar tidak terjebak dalam ketidakpastian dan keraguan.





