Politik

Jemaah Diingatkan Hentikan Memaksakan Diri untuk Keamanan Puncak Ibadah Haji!

Jakarta, Maret.id — KH M Cholil Nafis, Ketua Musyrif Diny, menyampaikan peringatan penting terkait fase Armuzna pada ibadah haji. Menurutnya, fase ini sangat menguras energi jamaah, sekaligus menegaskan bahwa kondisi fisik jamaah harus menjadi prioritas utama demi keselamatan jiwa.

Risiko Kelelahan Ekstrem

Kiai Cholil menyoroti data sejarah penyelenggaraan haji yang menunjukkan bahwa tingkat kelelahan ekstrem dan angka kematian jamaah seringkali terjadi pada hari-hari krusial di Armuzna. “Kita ingatkan itu pada mereka, karena biasanya jumlah kematian itu banyak terjadi pada Armuzna ini. Prosesnya cukup melelahkan,” ungkapnya di Arafah, Arab Saudi, pada Rabu, 27 Mei 2026.

Dengan cuaca ekstrem yang menyengat di Arab Saudi, Kiai Cholil meminta jamaah haji Indonesia, terutama lansia dan wanita yang mendominasi kuota tahun ini, untuk bersikap realistis. Ia mengingatkan mereka agar tidak menyamakan ketahanan fisik dengan jamaah dari negara lain, yang mungkin memiliki stamina lebih baik.

Pentingnya Ijtihad dalam Beragama

Sebagai solusi syariah, Kiai Cholil menekankan pentingnya mengambil ijtihad atau kelonggaran hukum Islam yang telah disepakati para ulama demi kepentingan jamaah. “Cara beragama kita tidak boleh memaksakan diri. Jangan sampai membahayakan diri sendiri. Ada ijtihad ulama terkait waktu jawaz, seperti halnya melontar jumrah yang boleh dilakukan sebelum dzuhur,” jelasnya.

Ia juga mencontohkan jamaah bertubuh besar dari negara-negara seperti Nigeria atau Pakistan yang mungkin lebih kuat menghadapi terik matahari pada waktu utama. Namun, bagi jamaah Indonesia yang fisik atau usianya terbatas, berdesakan di tengah cuaca panas bisa berakibat fatal.

Kebijakan Mitigasi oleh Pemerintah

Lebih lanjut, Kiai Cholil mengapresiasi kebijakan mitigasi pemerintah yang telah dilakukan sejak pra-puncak haji. Salah satu langkah penting adalah penghentian sementara operasional Bus Shalawat menjelang wukuf. Langkah ini diambil untuk membatasi pergerakan jamaah ke Masjidil Haram, sehingga jamaah, khususnya lansia, dapat menghemat energi untuk rukun haji yang paling utama.

“Bukan tidak utama ke Masjidil Haram, tetapi tujuan utama mereka adalah haji. Dengan menyiapkan tenaga untuk (puncak) haji itu lebih penting daripada ibadah sunah bolak-balik yang mungkin bisa bermasalah bagi lansia,” tegas Ketua Badan Pengurus Dewan Syariah (DSN) MUI tersebut.

Kiai Cholil juga mengungkapkan bahwa jumlah jamaah haji lansia tahun 2026 tergolong cukup besar, dengan proporsi jamaah wanita mencapai 54 persen dari total kuota Indonesia. Ia menegaskan bahwa esensi haji bukanlah pemaksaan fisik, melainkan ketulusan spiritual, tapak tilas, dan keintiman berkomunikasi dengan Allah SWT dalam kepasrahan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button