Wajib Tahu! Sederet Dampak Limbah Kurban Terhadap Lingkungan!

Jakarta, Maret.id — Aktivitas penyembelihan hewan kurban pada saat Iduladha dapat membawa dampak yang serius jika limbahnya tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk memahami potensi bahaya yang diakibatkan oleh limbah kurban terhadap kesehatan dan lingkungan di sekitarnya.
Pentingnya Pengelolaan Limbah Kurban
Menurut Corie Indria Prasasti, seorang pakar kesehatan lingkungan dari Universitas Airlangga, limbah yang dihasilkan dari penyembelihan hewan kurban terdiri dari limbah cair dan limbah padat. Limbah cair terutama terdiri dari darah hewan, sementara limbah padat dapat berupa isi perut hewan.
“Dampak dari limbah tersebut sangat berbahaya jika dibuang sembarangan,” ujar Corie. Jika limbah tersebut dibuang ke sumber mata air atau sungai tanpa pengelolaan yang benar, bisa memicu pencemaran yang serius.
Aturan Pengelolaan Limbah Kurban
Pengelolaan limbah kurban diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dalam peraturan ini, limbah hasil penyembelihan hewan wajib ditempatkan di lokasi yang aman dan jauh dari sumber air. Meski limbah kurban diperbolehkan untuk dikubur, Corie mengingatkan agar tidak melakukannya dekat sumur atau saluran air milik warga.
Ia menggarisbawahi pentingnya langkah-langkah tersebut untuk mencegah munculnya masalah-masalah kesehatan di masa depan.
Dampak Negatif dari Limbah Kurban
Masyarakat perlu mewaspadai beberapa dampak negatif dari paparan limbah kurban. Pertama adalah potensi pencemaran sumber air, di mana limbah darah dan isi perut hewan dapat mencemari sungai serta sumur. Air yang terkontaminasi dapat berisiko menyebabkan gangguan kesehatan bagi masyarakat sekitar.
Kedua, penumpukan limbah organik yang tidak dikelola dengan baik dapat menghasilkan bau tidak sedap, yang mengganggu kenyamanan warga selama Iduladha. Ketiga, limbah yang dibiarkan terbuka akan mengundang lalat dan bakteri, yang berpotensi meningkatkan risiko penyebaran penyakit berbasis lingkungan.
Keempat, langsung membuang limbah cair ke saluran air dapat merusak kualitas lingkungan di sekitar lokasi penyembelihan. Dampak ini akan dirasakan oleh masyarakat dalam jangka panjang.
Kolaborasi untuk Menciptakan Lingkungan Bersih
Corie menjelaskan, tantangan terbesar dalam mengelola limbah kurban adalah keterbatasan lahan di lokasi-lokasi penyembelihan. Tidak semua masjid atau tempat kurban memiliki fasilitas pengelolaan limbah yang memadai. Oleh karena itu, kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk pemerintah, dinas kesehatan, peternakan, dan pengurus masjid sangat diperlukan.
“Edukasi juga harus ditujukan kepada masyarakat umum, bukan hanya panitia kurban,” tegasnya. Corie berharap, dengan pengelolaan limbah yang baik serta kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan, pelaksanaan Iduladha dapat berjalan dengan aman, sehat, dan nyaman bagi semua.
Dalam rangka menyukseskan proses penyembelihan hewan kurban, pengelolaan limbah yang tepat sangatlah krusial. Dengan demikian, diharapkan semua pihak dapat berkontribusi dalam menjaga lingkungan dan kesehatan masyarakat selama perayaan Iduladha.



