Gaya Hidup

Nobody Loves Kay jadi debut panjang penuh makna Bernardus Raka!

Jakarta, Maret.id — Sutradara Bernardus Raka mengaku tidak pernah membayangkan akan menggarap film panjang pada tahap kariernya saat ini, dan menyebut pengalaman membuat Nobody Loves Kay sebagai titik balik yang penuh makna. Pernyataan itu disampaikan Raka dalam konferensi pers film tersebut di Senayan City, Jakarta, Kamis, 28 Mei 2026.

Debut yang Tak Terduga

Raka menjelaskan selama ini ia lebih sering berkarya pada format video musik, film pendek, dan proyek berdurasi singkat lainnya. Kehadiran kesempatan untuk menulis dan menyutradarai film panjang muncul setelah pertemuan dengan penulis, produser, serta para aktor yang menurutnya “menyenangkan” dan tepat untuk proyek ini.

Raka menggambarkan proses produksi sebagai perjalanan yang terasa seakan sudah ditakdirkan, di mana kolaborasi tim dan chemistry antar-pemain membentuk fondasi penting bagi pembentukan film. Ia menilai momen tersebut bukan semata soal teknik, melainkan tentang menemukan suasana kerja yang memungkinkan emosi dan cerita berkembang secara organik.

Inti Emosional: Persahabatan

Menurut Raka, bagian paling menguras emosi dalam Nobody Loves Kay adalah hubungan persahabatan antar-karakter utama yang disajikan secara autentik. Ia menambahkan bahwa kisah tersebut dekat dengan pengalaman pribadinya semasa tinggal di Surabaya, sehingga ia mampu menempatkan nuansa dan detail yang nyata ke dalam narasi.

Untuk mencapai kedekatan emosional itu, Raka mengatakan pendekatan selama reading dan pengembangan karakter dilakukan dengan menempatkan dirinya sebagai teman, bukan semata otoritas sutradara. Cara kerja ini dimaksudkan agar para pemeran bisa membangun kepercayaan dan keterikatan yang diperlukan untuk menampilkan dinamika persahabatan secara meyakinkan.

Riset Mendalam untuk Latar Cerita

Penulis skenario Johanna Wattimena menjelaskan bahwa pengembangan cerita melibatkan riset ekstensif, termasuk diskusi dengan keluarga tenaga kerja Indonesia (TKI) dari berbagai daerah. Tim naskah juga melakukan kunjungan ke Filipina untuk memahami lingkungan sosial dan keluarga yang menjadi latar cerita film tersebut.

Selain aspek keluarga TKI, tim produksi melibatkan konsultan gamer untuk memahami dunia permainan kompetitif Mobile Legends secara mendalam. Johanna menyoroti bahwa mekanika permainan tim di Mobile Legends—yang menuntut kerja sama, koordinasi, dan strategi antar-anggota—diadaptasi ke dalam struktur hubungan antarkarakter sehingga cerita tidak hanya fokus pada satu tokoh saja.

Proses Kreatif dan Dinamika Produksi

Pengembangan skenario dilaporkan berlangsung selama beberapa bulan dengan keterlibatan tim development dan sutradara untuk menyelaraskan visi cerita. Johanna menyatakan sengaja menulis narasi yang juga menyorot perjalanan tokoh-tokoh lain di sekitar Kay, sehingga film menawarkan perspektif ganda dan kompleksitas emosional.

Raka menambahkan bahwa pengalaman menggarap film panjang mengajarkannya pentingnya daya tahan selama proses produksi dan menjaga suasana kerja yang kondusif. Ia menyatakan rasa syukur atas keberadaan kru dan pemain yang membuat suasana syuting berjalan relatif santai tanpa ketegangan berlebih sehingga memungkinkan eksplorasi adegan yang lebih intens.

Keseluruhan tim, menurut penuturan para pembuat film, berusaha menerjemahkan dinamika gaming dan realitas keluarga ke layar dengan cara yang menghormati pengalaman para subjek dan tetap relevan bagi penonton muda. Dengan pendekatan kolaboratif dan riset yang kuat, Nobody Loves Kay diposisikan sebagai karya debut panjang yang sarat dengan nuansa lokal dan tematika universal.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button