IDEAS: Peringatan! Pendapatan Bersih Ojol Turun Drastis, Pengeluaran Harian Naik!

Jakarta, Maret.id — Di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital, pengemudi ojek daring (ojol) mengalami penurunan kondisi yang signifikan. Laporan dari Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) menunjukkan bahwa pendapatan bersih pengemudi ojol diperkirakan akan turun drastis menjadi sekitar Rp1,7 juta per bulan pada tahun 2025, turun dari Rp2,9 juta per bulan pada tahun 2023.
Penurunan Pendapatan Signifikan
Penurunan tersebut terungkap dalam policy brief terbaru berjudul “Mengakhiri Kerja Tak Layak Ojek Daring”. Kajian ini didasarkan pada survei yang melibatkan 1.018 pengemudi ojol yang tersebar di 67 kabupaten/kota pada bulan Desember 2025, beberapa bulan sebelum peluncuran Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun 2026 tentang Perlindungan Pekerja Transportasi Online.
Muhammad Anwar, peneliti IDEAS, mengungkapkan bahwa meskipun ekonomi digital berkembang pesat, kesejahteraan para pekerjanya justru semakin memburuk. “Ekonomi digital berkembang pesat, tetapi kesejahteraan pekerjanya justru semakin rapuh. Banyak pengemudi ojol bekerja lebih lama dengan pendapatan yang terus menurun,” papar Anwar, pada Kamis, 28 Mei 2026.
Biaya Operasional Naik
IDEAS juga mencatat bahwa pendapatan kotor harian pengemudi ojol mengalami penurunan dari Rp168 ribu per hari pada tahun 2023 menjadi sekitar Rp126 ribu per hari pada tahun 2025. Walaupun pendapatan menurun, biaya operasional mengalami peningkatan. Pengeluaran harian pengemudi tercatat naik dari Rp53 ribu menjadi Rp58 ribu per hari, yang kini menyumbang hampir 46 persen dari pendapatan kotor mereka.
Kondisi ini memaksa sebagian besar pengemudi untuk bekerja lebih lama demi mencukupi kebutuhan hidup. Survei menunjukkan bahwa 51 persen responden bekerja antara 9 hingga 12 jam per hari, dan 55,5 persen di antaranya mengaku bekerja tujuh hari penuh tanpa libur.
Risiko Keselamatan Kerja
Kondisi kerja yang berat ini juga berkontribusi pada meningkatnya risiko keselamatan di jalan. IDEAS mencatat bahwa 50,3 persen pengemudi pernah mengalami kecelakaan kerja selama menjadi mitra aplikasi transportasi online. Dari jumlah tersebut, sekitar 5,6 persen responden melaporkan mengalami luka berat dan kerusakan kendaraan yang cukup parah.
“Pekerjaan ojol kini menjadi penyangga hidup masyarakat miskin kota, tetapi dijalankan dalam situasi yang sangat rentan. Risiko kecelakaan tinggi, jam kerja panjang, tetapi perlindungan sosialnya minim,” ujar Anwar.
IDEAS juga menyoroti tingginya potongan aplikator yang dibebankan kepada pengemudi. Sebanyak 50,3 persen responden mengaku mendapat potongan sebesar 20 persen, sedangkan 24,2 persen lainnya mengalami potongan antara 25 hingga 30 persen. Banyak pengemudi juga melaporkan penurunan pendapatan akibat promosi tarif yang dijalankan platform.
Lebih dari 59,2 persen responden melaporkan pendapatan per order mereka turun saat platform mengadakan promosi. Hampir separuh dari pengemudi bahkan mengalami kehilangan antara Rp2.000 hingga Rp10.000 per perjalanan.
Pentingnya Intervensi Regulasi
IDEAS menilai bahwa status sebagai “mitra” yang melekat pada pengemudi membuat perusahaan aplikasi terhindar dari kewajiban ketenagakerjaan formal. Meskipun perusahaan memiliki kontrol besar terhadap pengemudi — mulai dari distribusi order hingga pemutusan kemitraan — banyak pengemudi mengalami kesulitan dalam hal perlindungan dan kepastian kerja.
Survei menunjukkan 46,5 persen pengemudi pernah mengalami suspend akun, sedangkan 9,4 persen menyatakan telah diputus kemitraan secara permanen tanpa penjelasan yang jelas. “Status kemitraan saat ini berjalan sangat timpang. Pengemudi disebut mitra, tetapi relasi kerjanya sepenuhnya dikendalikan platform digital,” tegas Anwar.
Untuk mengatasi masalah ini, IDEAS mendorong pemerintah agar implementasi Perpres Nomor 27 Tahun 2026 dapat meningkatkan kondisi kerja pengemudi ojol. Regulasi yang lebih ketat diperlukan, termasuk perlindungan sosial, pembatasan jam kerja, kepastian pendapatan minimum, serta mekanisme penyelesaian sengketa yang lebih adil antara pengemudi dan perusahaan aplikasi.
IDEAS memperingatkan bahwa tanpa intervensi regulasi yang kuat, transformasi digital dapat memperluas praktik eksploitasi terhadap pekerja informal di sektor ekonomi platform.



