Nasional

Pancasila HARUS Jadi Kompas Moral Bangsa!

Jakarta, Maret.id — Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Hukum, Gusti Ayu Putu Suwardani, menegaskan pentingnya Pancasila sebagai kompas moral dalam kehidupan berbangsa. Dalam sebuah diskusi daring berjudul “Merajut Kebersamaan: Nilai Pancasila sebagai Jiwa Pemersatu Bangsa,” Suwardani menyampaikan bahwa nilai-nilai Pancasila harus terus menjadi pedoman dalam menghadapi perubahan global yang terus berlangsung.

Pancasila sebagai Dasar Pembangunan

Suwardani juga mengungkapkan bahwa Pancasila memiliki peran vital dalam menjaga arah pembangunan nasional agar tetap berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan. Ia menekankan bahwa esensi Pancasila—yang mencakup nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial—harus diwujudkan dalam setiap kebijakan serta dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Pancasila bukan hanya sekadar dasar negara, tetapi juga merupakan jiwa bangsa dan kompas moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya. Suwardani menambahkan bahwa Indonesia dikenal sebagai negara dengan tingkat kemajemukan yang tinggi, tercermin dari ratusan suku, bahasa, serta praktik beragama yang harmonis.

Keberagaman dan Kekayaan Nasional

Menurut Suwardani, masyarakat Indonesia saat ini hidup berdampingan dalam enam agama yang diakui, serta lebih dari 180 aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Keberagaman ini, ia katakan, merupakan kekuatan yang perlu dirawat dan dijaga. “Kemajemukan adalah kekayaan nasional yang harus dijaga oleh semua elemen masyarakat,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya Pancasila sebagai perekat yang memperkuat toleransi dan harmoni di tengah beragam perbedaan. “Pancasila harus hadir dalam setiap momen sebagai pengikat persatuan yang menguatkan semangat kebangsaan,” jelasnya.

Tantangan dalam Menjaga Keberagaman

Meski demikian, Suwardani mengingatkan bahwa ada sejumlah tantangan yang dihadapi bangsa dalam menjaga keberagaman. Tantangan-tantangan ini antara lain politik identitas, intoleransi, diskriminasi, serta ketimpangan sosial dan ekonomi antar wilayah. Ia menyatakan bahwa semua tantangan tersebut harus dihadapi dengan memperkuat implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat.

Suwardani optimis bahwa persatuan dan harmoni yang tetap terjaga akan menjadi modal penting dalam menghadapi masa depan, khususnya menuju visi Indonesia Emas 2045. Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Hukum, Edward Omar Sharif Hiariej, juga memberikan pandangannya terkait makna hari Lahir Pancasila.

Hiariej menegaskan bahwa Pancasila menjadi jembatan yang mempertemukan nilai martabat manusia dengan kepercayaan sosial bangsa Indonesia. “Sila kedua Pancasila menekankan pentingnya kemanusiaan yang adil dan beradab sebagai bentuk penghormatan terhadap martabat manusia,” ungkapnya.

Hiariej menambahkan bahwa penghormatan terhadap martabat manusia ini akan memperkuat persatuan dan melahirkan kepercayaan sosial yang kokoh. “Ketika martabat dihormati, persatuan sebagaimana tercantum dalam sila ketiga dapat terwujud, dan ini akan melahirkan social trust yang kuat dalam masyarakat kita,” ujarnya.

Dengan semangat tersebut, baik Suwardani maupun Hiariej sepakat akan perlunya kolaborasi semua elemen masyarakat dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila demi masa depan bangsa yang lebih baik.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button