Teknologi

UPY Dorong Inovasi dan Kreativitas dalam Pembelajaran Sejarah

Yogyakarta, Maret.id — Memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) menyelenggarakan webinar bertajuk Pedagogi Kreatif dalam Pembelajaran Sejarah pada Sabtu, 9 Mei 2026. Kegiatan daring tersebut diikuti oleh ratusan peserta dan menghadirkan sejumlah akademisi dan praktisi pendidikan sebagai pembicara.

Pelaksanaan webinar dan narasumber

Wakil Dekan FKIP UPY, Darsono, membuka acara dengan menekankan pentingnya kreativitas dalam pembelajaran sejarah agar materi menjadi bermakna dan kontekstual bagi siswa. “Pembelajaran sejarah di kelas harus bermakna dan kontekstual sehingga tidak lagi dianggap membosankan atau tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Kaprodi Pendidikan Sejarah UPY Muhammad Iqbal Birsyada tampil sebagai pembicara kunci. Iqbal menyatakan bahwa pengajaran sejarah yang kreatif menuntut daya imajinasi guru dan keberanian untuk keluar dari pakem konvensional. Ia juga mengutip filsuf Plato tentang pentingnya variasi gaya mengajar agar siswa termotivasi, terutama ketika mata pelajaran sejarah ditempatkan pada jam-jam terakhir yang rawan menurunnya konsentrasi.

Selain itu, hadir pula Ketua Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Provinsi Jawa Tengah Heni Purwono dan guru sejarah SMAN 1 Karanganyar Tri Endaryati yang berbagi pengalaman praktik pembelajaran di lapangan.

Strategi pembelajaran sejarah yang kreatif

Heni Purwono menepis anggapan bahwa sejarah hanya sekadar hafalan dan membosankan, dan menekankan peran guru dalam mengubah persepsi tersebut melalui praktik-praitik kreatif. “Kalau guru sejarah mau melaksanakan praktik-praktik kreatif dalam pembelajaran, maka belajar sejarah menjadi menantang dan menyenangkan. Buat media yang bagus, ajak anak-anak banyak beraktivitas, kalau perlu di luar ruangan,” kata Heni, yang juga menjabat Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banjarnegara.

Tri Endaryati menyoroti pentingnya penggunaan metode dan media yang kontekstual untuk memotivasi peserta didik. Ia memberi contoh kegiatan kunjungan ke museum dan pengumpulan sumber sejarah di sekitar siswa sebagai cara untuk meningkatkan keterlibatan. Tri juga menekankan perlunya membekali siswa dengan keterampilan abad ke-21, seperti berpikir kritis, kolaborasi, kreativitas, dan komunikasi.

Para pembicara sepakat bahwa eksperimen dalam metode pengajaran dan pemanfaatan aktivitas lapangan dapat membuat pembelajaran sejarah lebih menarik dan relevan bagi siswa, serta mendukung perkembangan kompetensi yang dibutuhkan di masa depan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button