Dino Patti Djalal Usulkan 5 Strategi Penghematan Lawatan Presiden hingga Ratusan Miliar Rupiah!

Jakarta, Maret.id — Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, mengajukan lima saran kepada Presiden Prabowo Subianto terkait pengurangan perjalanan ke luar negeri. Saran tersebut muncul menjelang akhir bulan Mei 2026, dengan mengingat kondisi ekonomi Indonesia yang masih belum stabil.
Dino menekankan pentingnya efisiensi penggunaan anggaran negara, terutama dalam konteks perjalanan dinas presiden yang menjulang tinggi. Menurutnya, jumlah kunjungan luar negeri yang dilakukan oleh presiden saat ini sangat berdampak pada pengeluaran negara.
Pengeluaran Besar untuk Perjalanan Ke Luar Negeri
Setiap perjalanan presiden ke luar negeri, lanjut Dino, tidak hanya melibatkan biaya tiket pesawat dan akomodasi, tetapi juga rombongan besar dan berbagai kebutuhan logistik lainnya. Ia memperkirakan bahwa satu perjalanan bisa menguras anggaran hingga puluhan atau bahkan ratusan miliar rupiah.
“Satu perjalanan ke luar negeri bisa menghabiskan biaya puluhan hingga ratusan miliar rupiah. Oleh karena itu, saya memiliki beberapa saran untuk Presiden Prabowo,” ungkap Dino. Dengan latar belakang sebagai mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, ia merasa perlu untuk memberikan masukan konstruktif.
Optimalisasi Teknologi Komunikasi
Saran pertama yang diajukan Dino adalah memanfaatkan teknologi komunikasi yang ada. Ia mendorong Presiden untuk lebih sering menggunakan video conference atau pertemuan virtual untuk berinteraksi dengan para pemimpin dunia. Dino mencatat dari pengalamannya bahwa inti dari pertemuan bilateral umumnya hanya berlangsung satu hingga dua jam, sementara banyak waktu dihabiskan untuk agenda seremonial yang tidak selalu penting.
“Pengalaman saya menunjukkan bahwa kunjungan bilateral biasanya lebih banyak diisi dengan basa-basi dan jamuan yang bisa menjadi tidak perlu. Dengan teknologi yang ada, kita bisa memangkas banyak waktu dan biaya,” jelasnya.
Penghematan Anggaran untuk Diplomasi yang Efektif
Dino menambahkan bahwa penggunaan komunikasi virtual dapat menghemat anggaran negara, tanpa mengurangi substansi dari tujuan diplomasi yang ingin dicapai. Menurutnya, hal ini menjadi alternatif yang bijak, terutama di masa-masa ketika pengeluaran negara harus ditekan demi kesejahteraan rakyat.
“Dari berbagai sudut pandang, solusi ini bukan hanya efisien secara biaya, tetapi juga dapat membantu menjaga hubungan diplomatik yang vital bagi Indonesia,” ujarnya.
Dino berharap bahwa saran-saran ini bisa dipertimbangkan oleh Presiden Prabowo Subianto dan menjadi bagian dari kebijakan yang lebih efisien dalam melakukan diplomasi internasional. Hal ini, kata dia, sangat penting untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik di kancah global, terutama dalam kondisi ekonomi yang sulit saat ini.
Dengan penghematan yang signifikan melalui optimalisasi teknologi, Indonesia diharapkan dapat melakukan diplomasi yang lebih efektif dan efisien, dengan fokus pada kepentingan nasional yang lebih besar.





