Politik

Koster Desak Tindakan Tegas Atasi Isu Sampah, Macet, dan Pelanggaran Tata Kelola!

Jakarta, Maret.id — Gubernur Bali, I Wayan Koster, memberikan apresiasi terhadap keberhasilan acara Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 yang berhasil mencatat potensi transaksi hingga Rp6,9 triliun. Koster menegaskan bahwa Bali tetap menjadi primadona bagi wisatawan mancanegara meskipun pernah mengalami penurunan dalam daya tarik pariwisatanya dibandingkan dengan negara-kota seperti Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Singapura.

Koster mengingatkan pentingnya upaya bersama untuk merawat dan menata Bali sehingga tetap dicintai dan dipercayai oleh publik global. Dia mengkhawatirkan masalah kemacetan, kualitas air, dan pengelolaan sampah yang sudah menjadi isu rumit, dapat mengikis kepercayaan dunia terhadap Bali.

Kepentingan Masyarakat dan Lingkungan

“Isu-isu seperti sampah, kemacetan, air, energi, dan pelanggaran tata kelola tidak boleh diabaikan,” tegas Koster. “Kami perlu menyelesaikan masalah ini dengan dukungan pemerintah pusat serta pembahasan yang intens di DPR.” Menurutnya, keberhasilan sektor pariwisata akan sangat menentukan pemulihan ekonomi masyarakat Bali.

Bali, yang dikenal dengan keindahan alam dan kebudayaannya yang kental, harus tetap dijaga identitasnya. “Bali harus tetap menjadi Bali, dengan semua kekuatan alam, kekayaan, keunikan, dan kemuliaan budaya yang menyatu dengan kehidupan spiritual masyarakat,” ungkap Koster. “Inilah yang menjadi magnet bagi dunia untuk datang ke Bali.”

Potensi Besar BBTF 2026

Ajang BBTF 2026 menggambarkan potensi luar biasa bagi pariwisata Indonesia dengan kehadiran 407 buyer dari 44 negara dan 286 seller dari 4 negara serta 12 provinsi di Indonesia yang berpartisipasi. Koster menyatakan bahwa angka transaksi yang sangat besar ini menggarisbawahi kekuatan Bali di pasar pariwisata global, bahkan di tengah tantangan ekonomi dan geopolitik yang ada saat ini.

Dampak Berkelanjutan dari BBTF

Ketua Panitia BBTF 2026 yang juga menjabat sebagai Ketua ASITA Bali, Putu Winastra, mengungkapkan bahwa nilai ajang ini lebih dari sekadar angka transaksi. Ia menekankan bahwa dampak berkelanjutan melalui bisnis, kontrak lanjutan, pengembangan itinerary baru, dan kemitraan dengan berbagai pihak akan semakin meningkatkan kedatangan wisatawan ke Indonesia.

“Sebuah travel trade show tidak berhenti ketika booth ditutup atau ketika pertemuan bisnis terakhir selesai. Nilai terbesarnya justru berlanjut setelah penyelenggaraan,” kata Winastra, yang menunjukkan harapan tinggi terhadap masa depan pariwisata Bali dan sekitarnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button