Gary Lineker Tantang Arsenal, Sebut Tiga Raksasa Lebih Berkualitas!

Jakarta, Maret.id — Gary Lineker, mantan striker legendaris tim nasional Inggris, tidak ragu untuk menyampaikan pandangannya yang tegas mengenai Arsenal, usai mereka menelan kekalahan pahit di final Liga Champions melawan Paris Saint-Germain. Meskipun pelatih Mikel Arteta berhasil membawa The Gunners meraih gelar juara Liga Premier yang sangat ditunggu-tunggu, Lineker berargumen bahwa tim asal London Utara tersebut masih tertinggal dalam hal performa hiburan jika dibandingkan dengan tiga raksasa Eropa.
Upaya Terakhir yang Menyedihkan di Budapest
Kekecewaan Arsenal dalam pencarian gelar ganda bersejarah berujung pada frustrasi di Budapest. Prediksi Lineker bahwa tim yang lebih baik layak menang terbukti tepat, ketika Arsenal, meskipun sempat unggul melalui gol awal Kai Havertz, akhirnya disamakan oleh Ousmane Dembélé dari titik penalti, sebelum harus mengakui keunggulan PSG melalui adu penalti.
“Pasti terasa menyakitkan bagi para pendukung Arsenal, namun hasil ini hanyalah pengakuan bahwa PSG lebih layak meneruskan dominasi mereka,” ungkap Lineker saat berbicara di podcast “The Rest is Football”. Ia menegaskan bahwa keunggulan permainan ofensif tim Prancis itu harus diakui, dan menyarankan kepada Arsenal untuk mengadaptasi strategi permainan yang lebih eksploratif agar dapat berkompetisi dengan lebih baik di level Eropa.
Tiga Raksasa yang Mendominasi Estetika Sepak Bola
Lineker melanjutkan diskusinya dengan menyebutkan Bayern Munich, Barcelona, dan tentu saja PSG sebagai tim-tim yang saat ini bermain dengan estetika lebih tinggi dibandingkan Arsenal. Ia mengakui bahwa meskipun pertahanan Arsenal solid, tim tersebut belum mampu memasuki kategori “sepak bola indah.”
“Sepak bola seharusnya adalah hiburan, dan penonton ingin melihat tim yang positif, kreatif, serta memiliki pemain berkualitas. Saat ini, PSG, Bayern, dan Barcelona memenuhi kriteria tersebut,” tegasnya.
Taktik Arteta yang Dipertanyakan
Strategi Mikel Arteta pada final Liga Champions memicu perdebatan di kalangan pengamat, banyak yang merasa bahwa pendekatannya terlalu defensif. Lineker menunjukkan pemahaman terhadap kebutuhan pertahanan yang kokoh, mengingat perbedaan kualitas individu yang mencolok, tetapi tetap menggarisbawahi bahwa presentasi sepak bola harus lebih menghibur.
“Mungkin Arsenal bermain sangat terorganisir, dan PSG tidak banyak menciptakan peluang, namun sebagai penonton netral, yang kita butuhkan adalah sepak bola yang layak dilihat. Kemenangan ini menunjukkan bahwa tim terbaik telah meraih trofi,” ujarnya dengan nada percaya diri.
Ekspresi Emosional Arteta Pasca Pertandingan
Usai pertandingan, Mikel Arteta tidak bisa menyembunyikan rasa sakit yang dialaminya, menyebut pengalaman itu sebagai “menyakitkan” setelah hampir meraih capaian yang tidak biasa. Ia tidak segan-segan memberikan ucapan selamat kepada PSG, yang telah mengukir sejarah dengan meraih gelar Liga Champions secara beruntun.
“Mereka adalah tim yang luar biasa, dengan kualitas individu yang sangat tinggi dan metode pelatihan yang hebat—mereka adalah yang terbaik,” tambah Arteta.
Di balik kekecewaan di Eropa, suasana hati skuad Arsenal tampak lebih cerah saat mereka merayakan gelar Liga Premier pertama dalam dua dekade. Parade trofi di utara London menjadi sabuk kemenangan, dengan para penggemar menyambut pahlawan mereka, serta trofi berkilauan yang menjadi simbol kebangkitan klub. Dengan melihat perjalanan Arsenal yang menantang, tampak jelas bahwa meskipun mereka menghadapi rintangan, harapan akan sepak bola indah yang ditawarkan tetap ada di hati para pendukung.





