Politik

Kiai Muda NU Mobilisasi Kekuatan Moral dari Solo Raya Jelang Muktamar!

Jakarta, Maret.id — Ketua Panitia Halaqoh, Gus Fawwaz, menyampaikan alasan pemilihan Solo Raya sebagai lokasi penyelenggaraan yang tidak sembarangan. Wilayah tersebut memiliki jejak sejarah penting dalam perjalanan Nahdlatul Ulama (NU), khususnya dalam menjaga keseimbangan antara khidmah keumatan dan relasi organisasi dengan kekuasaan.

Signifikansi Solo dalam Sejarah NU

“Solo menyimpan memori kolektif yang sangat kuat dalam sejarah NU. Di kawasan inilah para ulama masa lalu merumuskan berbagai sikap strategis untuk menjaga marwah jam’iyah,” jelasnya di Boyolali, pada Senin, 1 Juni 2026. Gus Fawwaz menilai Solo Raya sebagai tempat yang tepat untuk menghidupkan kembali tradisi musyawarah, kritik konstruktif, dan konsolidasi pemikiran menjelang Muktamar ke-35.

Dikatakannya, forum ini lahir dari kegelisahan di kalangan warga nahdliyin akar rumput terhadap dinamika organisasi. Hal ini dinilai dapat berpotensi menggeser peran sentral ulama sebagai penjaga arah moral jam’iyah. “Kami melihat semakin banyak pertanyaan dari warga nahdliyin mengenai posisi ulama, independensi organisasi, dan fungsi Syuriyah sebagai pemegang otoritas moral tertinggi,” tegasnya.

Kritik Melalui Cinta kepada Organisasi

Dalam forum ini, Gus Fawwaz menyatakan bahwa kritik yang disampaikan berakar dari rasa cinta kepada organisasi, bukan semangat permusuhan. “NU terlalu besar dan terlalu berharga untuk dipandang dalam perspektif perebutan pengaruh dan kepentingan politik sesaat,” ungkapnya. Ia menekankan bahwa para pendiri NU mewariskan organisasi ini sebagai wadah perjuangan umat, sehingga marwah dan independensinya harus terus dijaga oleh seluruh elemen jam’iyah.

Forum halaqoh ini direncanakan akan dihadiri sekitar 100 peserta, terdiri dari pengasuh pesantren, kiai muda, akademisi, aktivis, dan tokoh penggerak nahdliyin dari berbagai daerah di Solo Raya. Diskusi akan menampilkan sejumlah narasumber, antara lain Prof. Musahadi, Rektor UIN Semarang, dan Ahmad Baso, seorang penulis dan intelektual NU, dengan Gus Mustafid dari Mlangi sebagai moderator.

Membangun Konsolidasi Pemikiran yang Sehat

Gus Fawwaz berharap halaqoh ini dapat menjadi ruang untuk konsolidasi pemikiran yang sehat dan bermartabat, guna memperkuat kembali peran ulama dalam organisasi. “Sejarah menunjukkan bahwa ketika ulama berani menyampaikan pandangan dan menjaga independensi moralnya, NU selalu mampu menemukan jalan terbaik bagi umat,” tuturnya. Ia menegaskan bahwa semangat tersebut ingin dihidupkan kembali dari Solo Raya menjelang Muktamar ke-35.

Gus Fawwaz menambahkan, kehadiran forum ini diharapkan dapat menjawab berbagai kerisauan yang muncul di kalangan nahdliyin. Dengan semangat kolektif, diharapkan peran ulama dalam menjaga arah dan moralitas organisasi dapat semakin diperkuat demi kepentingan umat.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button