Manuver PDI Perjuangan: Sinyal Pancasila di Era Digital

Jakarta, Maret.id — Pada hari ini, 1 Juni, kita diajak untuk mengingat kembali perjalanan sejarah bangsa yang dimulai pada tahun 1945. Ir. Soekarno, yang kelak menjadi Presiden pertama Indonesia, menyampaikan gagasan-gagasan besarnya di bawah rindang pohon sukun di Ende serta di atas podium BPUPKI, melahirkan lima prinsip yang dikenal sebagai Pancasila. Prinsip-prinsip ini dijadikan sebagai fondasi filosofi bagi Indonesia yang merdeka.
Pancasila Sebagai Landasan Berbangsa
Soekarno membayangkan Pancasila bukan sekadar dogma yang kaku, tetapi sebagai pemandu yang dinamis, sejalan dengan perkembangan peradaban manusia. Namun, hampir delapan dekade berlalu, relevansi Pancasila tampak meredup di kalangan generasi muda saat ini. Di tengah hiruk-pikuk tren media sosial, Pancasila sering kali hanya diingat sebagai hafalan untuk ujian atau teks yang terpampang di infografis instansi pemerintahan.
Hal ini menciptakan jarak sosiologis yang cukup jauh. Ironisnya, di tengah kemajuan teknologi yang dikuasai oleh generasi muda, mereka sering kali kesulitan dalam memahami nilai-nilai dasar yang menjadi identitas bangsa. Banyak yang menganggap Pancasila sebagai produk sejarah yang tidak relevan dengan tantangan zaman, mengakibatkan terjadinya komodifikasi terhadap nilai-nilai tersebut.
Pancaran Visinya Soekarno
Doktrinasi top-down yang diterapkan di masa lalu berkontribusi pada pemahaman yang minim terhadap Pancasila. Jika kita merenungkan kembali pemikiran Bung Karno, terutama dari karya-karyanya seperti “Di Bawah Bendera Revolusi” dan “Tuntunan Mencapai Indonesia Merdeka,” kita dapat melihat visi besarnya. Bung Karno menganggap Pancasila sebagai síntesis pemikiran global yang relevan dengan kultur gotong royong.
Dalam pandangannya, Indonesia tidak boleh terjebak dalam kapitalisme individu yang berlebihan atau materialisme ekstrem. Alih-alih, Indonesia harus menemukan kemandirian melalui keadilan sosial. Jika Bung Karno masih hidup pada era kecerdasan buatan saat ini, ia mungkin melihat teknologi sebagai alat yang perlu dibarengi dengan fondasi moral yang kuat untuk menghindari bentuk-bentuk penjajahan baru.
Pancasila di Era Kecerdasan Buatan
Menghadapi perkembangan kecerdasan buatan, penting untuk mendalami bagaimana nilai-nilai Pancasila dapat diterapkan dalam konteks modern. Misalnya, Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengharuskan kita untuk menjunjung tinggi nilai kemanusiaan di tengah ruang siber yang luas. Di era di mana teknologi dapat menyebarkan informasi dengan cepat, ketuhanan menjadi krusial sebagai kompas moral.
Sementara itu, Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, serta Sila Persatuan Indonesia, berada di garis depan dalam menanggapi tantangan polarisasi yang dihadirkan oleh algoritma media sosial. Pancasila mengajak generasi muda untuk menggunakan teknologi sebagai jembatan yang menghubungkan perbedaan, bukan sebagai alat yang memperlebar jurang perpecahan.
Selanjutnya, Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan menekankan pentingnya literasi digital di kalangan generasi muda. Mereka tidak hanya harus menjadi konsumen pasif informasi, tetapi juga harus berperan aktif dalam diskusi publik dengan argumen yang berbasis data dan etika.
Tak kalah pentingnya, Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menghadapi tantangan besar di era otomatisasi. Situasi kerja yang terancam akibat perkembangan teknologi menuntut kita untuk kembali memperjuangkan kedaulatan ekonomi. Akses terhadap teknologi dan pendidikan harus merata, tidak hanya dinikmati oleh mereka yang berada di kota besar, tetapi juga sampai ke pelosok desa.
Dengan demikian, mendekatkan kembali nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda di era algoritma bukanlah tugas yang mudah. Kita perlu memperkenalkan Pancasila sebagai solusi atas berbagai kecemasan masa depan serta memastikan bahwa salah satu warisan terbesar bangsa ini tidak hilang dari kesadaran mereka.
Semoga pada Hari Lahir Pancasila ini, kita dapat melestarikan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dan menjadikannya pedoman dalam menjalani kehidupan di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Semoga generasi mendatang tidak hanya mahir dalam menciptakan kecerdasan buatan, tetapi juga mengingat dan menerapkan kecerdasan batiniah serta jati diri bangsa mereka.





