Rumah Si Pitung Marunda Tetap Eksis di Banjir Rob!

Jakarta, Maret.id — Rumah Si Pitung di Marunda, Jakarta Utara, yang berdiri sejak era 1880-an, kini menjadi simbol perjuangan pelestarian budaya di tengah tekanan banjir rob dan perubahan ekonomi masyarakat pesisir. Situs bersejarah ini mempertahankan perannya sebagai destinasi edukasi dan sejarah meski menghadapi tantangan fisik dan penurunan kunjungan publik.
Sejarah dan status cagar budaya
Rumah kayu bergaya rumah panggung itu resmi ditetapkan sebagai cagar budaya pada 1972 dan dipercaya pernah menjadi tempat persembunyian tokoh legendaris Betawi, Si Pitung, saat diburu oleh pemerintah kolonial. Selain nilai historisnya, bangunan ini menjadi saksi hidup perkembangan komunitas pesisir Marunda selama lebih dari satu abad.
Bangunan asli mengadopsi struktur panggung yang tradisional dan awalnya berdiri lebih rendah, namun fungsi dan nilai arsitekturalnya tetap terjaga meski banyak bagian kayunya berumur tua. Kondisi material yang rentan membuat pengelola harus terus melakukan perawatan berkala untuk mencegah kerusakan yang lebih parah.
Menghadapi ancaman banjir rob
Wilayah pesisir Marunda menghadapi penurunan muka tanah dan kenaikan frekuensi banjir rob yang mengancam kelangsungan fisik Rumah Si Pitung. Sebagai upaya mitigasi, pengelola melakukan renovasi besar pada 2009–2010 dengan meninggikan teras dan struktur utama bangunan agar lebih tahan terhadap pasang air.
Pengelola dan pemandu museum, Darma Utama, menjelaskan bahwa sebelum renovasi bangunan panggungnya hampir menyentuh tanah, sehingga peninggian diperlukan sebagai langkah antisipasi jangka panjang. Meski demikian, banjir masih terjadi; pada Desember tahun lalu museum sempat kebanjiran dengan ketinggian air mencapai pergelangan kaki pengunjung dan staf.
Dilema harga tiket dan penurunan pengunjung
Sejak akhir 2024 terdapat penyesuaian tarif masuk yang menaikkan harga dari sebelumnya Rp5.000 menjadi Rp10.000 pada hari kerja dan Rp15.000 pada akhir pekan, kebijakan yang dimaksudkan untuk menutup biaya operasional dan perawatan. Kebijakan ini ternyata berdampak pada volume kunjungan, dengan data internal pengelola menunjukkan penurunan signifikan terutama dari kalangan keluarga berpenghasilan rendah.
Darma Utama mengatakan penurunan terlihat nyata ketika rombongan keluarga yang sebelumnya rutin berkunjung kini mengurangi frekuensi kunjungan karena kenaikan biaya. Ia menilai bahwa kebijakan harga perlu dievaluasi agar akses edukasi sejarah tetap terjamin bagi masyarakat setempat.
Upaya menarik minat generasi muda
Untuk merespons penurunan minat, pengelola menambah program edukatif dan kegiatan interaktif seperti pemutaran film sejarah, lokakarya menggambar, serta sesi pengenalan alat musik tradisional. Inisiatif ini dirancang untuk membuat pengalaman kunjungan lebih variatif dan relevan bagi generasi muda yang mencari aktivitas budaya yang atraktif.
Selain program edukasi, pengelola juga membuka beberapa fasilitas edukatif gratis bagi anak-anak setempat guna menjaga hubungan erat dengan komunitas lokal. Langkah-langkah ini menunjukkan upaya nyata mempertahankan peran museum sebagai ruang pembelajaran sekaligus rekreasi budaya.
Harapan dan kebutuhan dukungan
Meski suasana museum lebih sepi dibanding masa pasca-pandemi Covid-19, pengelola tetap optimistis dan berharap adanya evaluasi kebijakan harga serta dukungan dari pemerintah daerah dan pemangku kepentingan. Dukungan tersebut dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara keberlanjutan operasional dan akses masyarakat terhadap warisan budaya.
Warga setempat dan para penggemar sejarah tetap memandang Rumah Si Pitung sebagai destinasi nostalgia dan edukasi yang bernilai, sehingga perawatan dan promosi yang berkelanjutan diperlukan. Ke depan, kolaborasi lintas sektor diharapkan mampu memperkuat langkah konservasi dan menjamin bahwa warisan budaya pesisir Jakarta ini dapat dinikmati generasi mendatang.