Lokal

F

Jakarta, Maret.id — Kebakaran besar kembali melanda kawasan padat penduduk di Pasar Jiung, Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Senin malam, 1 Juni 2026. Peristiwa tragis ini menghanguskan sekitar 250 rumah dan diduga disebabkan oleh korsleting listrik dari salah satu rumah warga setempat.

Keprihatinan Legislator Terhadap Insiden Berulang

Insiden kebakaran yang memicu kritik datang dari legislator DPRD DKI Jakarta, Riano P Ahmad, yang berasal dari Fraksi NasDem. Riano menilai kejadian berulang ini menunjukkan lemahnya upaya pencegahan kebakaran di kawasan padat penduduk Ibu Kota.

Menurutnya, insiden kebakaran yang kembali terjadi di lokasi yang sama adalah bukti bahwa langkah mitigasi dan pencegahan tidak berjalan dengan baik. Riano merasa miris karena 330 keluarga harus kehilangan tempat tinggal mereka akibat kebakaran ini.

Pentingnya Pendidikan dan Pemetaan Risiko

Riano menekankan bahwa kawasan seperti Pasar Jiung seharusnya menjadi prioritas dalam program pencegahan kebakaran. Ia menyerukan perlunya pemetaan wilayah rawan kebakaran, edukasi masyarakat, hingga pengawasan instalasi listrik yang harus dilakukan secara rutin. Hal ini penting mengingat korsleting listrik masih menjadi penyebab utama kebakaran di Jakarta.

“Penyebab yang terus berulang menunjukkan adanya celah dalam upaya pencegahan. Pemerintah tidak seharusnya hanya fokus pada penanganan saat kebakaran terjadi, tetapi juga harus serius membangun sistem pencegahan yang berkelanjutan,” jelas Riano.

Audit Instalasi Listrik Menjadi Kebutuhan Mendesak

Riano juga mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk segera melakukan audit instalasi listrik di kawasan-kawasan berisiko tinggi. Dia menekankan bahwa pengawasan terhadap bangunan yang belum memiliki Sertifikat Laik Fungsi (SLF) perlu ditingkatkan.

“Audit instalasi listrik itu sangat penting. Kita tidak bisa hanya mengandalkan penanganan setelah kejadian. Langkah lanjutan harus dilakukan,” ujarnya.

Prioritas pada Kesejahteraan Korban Pasca Kebakaran

Di tengah upaya pemadaman dan penanganan dampak kebakaran, Riano juga menekankan pentingnya perhatian terhadap para korban. Ia meminta Pemprov DKI Jakarta untuk memastikan semua kebutuhan dasar mereka terpenuhi, mulai dari tempat pengungsian yang layak hingga bantuan logistik dan pendampingan psikologis.

Anak-anak, sebagai kelompok yang paling rentan mengalami trauma pascakebakaran, harus mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. “Pemerintah harus hadir secara maksimal, tidak hanya dalam penanganan darurat, tetapi juga memastikan kondisi psikologis korban, terutama anak-anak,” tambah Riano.

Kebakaran di Pasar Jiung kali ini diharapkan menjadi alarm bagi pemerintah daerah. Di tengah tingginya frekuensi kebakaran akibat korsleting listrik, tuntutan untuk memperkuat mitigasi dan pengawasan kini semakin mendesak agar insiden serupa tidak terus berulang di kawasan padat penduduk Jakarta.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button