Gaya Hidup

Hampir 95% Pelajar Indonesia Menggunakan Kecerdasan Buatan

Jakarta, Maret.id — Penggunaan kecerdasan buatan (AI) di kalangan pelajar Indonesia dilaporkan mencapai 95 persen, menimbulkan tantangan baru dalam sistem pendidikan terutama terkait kemampuan berpikir kritis siswa.

Dampak terhadap kemampuan belajar dan berpikir kritis

Para peserta panel “Reimagine Education in the Era of AI” pada acara The Cornerstone mengungkapkan fenomena cognitive offloading, yaitu kecenderungan pelajar bergantung pada teknologi untuk menyelesaikan tugas sehingga kemampuan belajar mandiri menurun. Perwakilan pelajar, Matahati Sabri, mengatakan banyak siswa kini mengandalkan AI saat mengerjakan tugas sehingga merasa kesulitan tanpa bantuan teknologi. Pernyataan itu disampaikan saat acara EduALL x Indonesia Mengajar – The Cornerstone (Think Deeper for Indonesia’s Future) pada Sabtu, 9 Mei 2026.

Respon praktisi dan pembuat kebijakan

Sejumlah narasumber menilai meski praktik penggunaan AI menimbulkan kekhawatiran, teknologi ini tetap perlu dimanfaatkan secara bijak. Najelaa Shihab menekankan bahwa tantangan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan penggunaan AI, tetapi juga kesenjangan akses digital. Ia mengingatkan peran guru sebagai “arsitek” dan “desainer” proses pembelajaran di era teknologi agar pembelajaran tetap berfokus pada pengembangan kompetensi siswa.

Mantan Menteri Pendidikan Anies Baswedan menyoroti perlunya kebijakan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk anak-anak di luar jalur pendidikan formal. Ia menyebut PKBM dan Karang Taruna sebagai komponen yang tidak boleh diabaikan dan mengusulkan pembentukan lembaga khusus yang menjadi rujukan dalam mengantisipasi perubahan teknologi seperti AI.

Diskusi ini difasilitasi oleh organisasi penyelenggara acara dengan tujuan membentuk generasi muda yang berpikiran berkembang dan memiliki kemampuan berpikir kritis. CEO penyelenggara, Devi Kasih, menyatakan kegiatan tersebut juga dirancang untuk mendorong keberanian anak muda berpendapat. Seluruh hasil penjualan tiket dan donasi dari acara disalurkan melalui Indonesia Mengajar untuk mendukung pendidikan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button