Dudung Tegaskan Prabowo Butuh Diplomasi Nyata, Bukan Sekadar Daring!

Jakarta, Maret.id — Menurut Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), duduknya Presiden Prabowo Subianto dalam panggung global perlu dilihat dari sudut pandang strategis dan bukan sekadar frekuensi kunjungan ke luar negeri. Hal ini disampaikan oleh Jenderal TNI Andika Perkasa dalam sesi wawancara di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Rabu (3/6).
Pentingnya Diplomasi Langsung
Dudung menjelaskan, di tengah ketidakpastian global yang meliputi perlambatan ekonomi dan meningkatnya jumlah konflik internasional, komunikasi langsung dengan pemimpin dunia menjadi sangat penting. Ia berpendapat bahwa tidak semua agenda diplomasi dapat diselesaikan melalui pertemuan virtual. “Saya tahu, gambaran saya, sekelas Bapak Presiden ke luar negeri itu pasti ada tujuan strategis yang lebih tinggi. Yang tidak cukup dengan Zoom,” ujarnya.
Isu Sensitif yang Memerlukan Pembahasan Tatap Muka
Ia juga mencatat, ada sejumlah isu yang memerlukan diskusi secara pribadi dan tidak bisa dilakukan melalui telepon atau konferensi online. Dalam situasi tertentu, komunikasi tatap muka menjadi krusial untuk membangun kepercayaan dan membahas topik yang sensitif. “Dengan telepon kita enggak bisa. Ada hal-hal khusus yang pasti beliau harus sampaikan empat mata,” imbuhnya.
Dudung menjelaskan lebih lanjut bahwa tugas Presiden tidak hanya terbatas pada persoalan domestik, tetapi juga mencakup hubungan bilateral dengan negara-negara lain. Ia menekankan, diplomasi langsung merupakan salah satu alat penting dalam memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika global saat ini.
Menjaga Kepentingan Nasional
Ia menambahkan bahwa Indonesia masih memerlukan kerja sama internasional di berbagai bidang seperti perdagangan, investasi, dan pemenuhan kebutuhan strategis lainnya. “Proses negosiasi terkait kepentingan tersebut sering kali membutuhkan pertemuan langsung antarpemimpin negara,” tegas Dudung.
Lebih jauh lagi, ia mengingatkan agar publik tidak membandingkan frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo dengan presiden-presiden sebelumnya. Menurutnya, setiap pemerintahan menghadapi tantangan serta konteks geopolitik yang berbeda. “Situasinya pun berbeda. Pak Presiden sekarang menjabat dengan situasi politik demikian, situasi ekonomi global yang tidak baik-baik saja,” pungkasnya.
Dalam terang pernyataan tersebut, komunitas politik menunjukkan bahwa hubungan internasional yang kuat dapat membantu Indonesia bertahan dan berkembang dalam situasi global yang penuh tantangan.





