Waspada, Tiga Gempa Kecil Guncang Sulawesi dalam Sehari

Jakarta, Maret.id — Tiga gempa bumi dengan magnitudo kecil mengguncang beberapa wilayah di Sulawesi pada Jumat, 5 Juni 2026, sore. Kejadian ini menimpa daerah-daerah di Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan.
Gempa Pertama dan Lokasinya
Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa pertama yang terjadi pukul 17.25 WIB berkekuatan 2,9 magnitudo. Pusat gempa terletak pada koordinat 0,79 Lintang Selatan dan 122,99 Bujur Timur, dengan lokasi sekitar 57 kilometer barat laut Banggai Kepulauan.
Kedalaman gempa pertama tercatat sekitar dua kilometer. Hingga saat ini, tidak ada laporan mengenai dampak atau kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa tersebut.
Tiga Gempa dalam Waktu Singkat
Hanya tujuh menit setelah gempa pertama, gempa kedua terjadi pada pukul 17.32 WIB, dengan kekuatan 3,1 magnitudo. Pusat gempa kedua terletak sekitar 127 kilometer tenggara Bitung, Sulawesi Utara, dan kedalamannya mencapai 52 kilometer.
Bitung dikenal sebagai daerah yang seismik aktif, sehingga tidak mengherankan jika gempa kecil sering terjadi di wilayah ini. Gempa ketiga menyusul pada 17.37 WIB dengan magnitudo 2,1, berlokasi 26 kilometer barat laut Luwu Timur dan tercatat pada kedalaman lima kilometer.
Status Seismik dan Penanganan Informasi
Aktivitas seismik di Sulawesi masih terus dipantau oleh BMKG. Meskipun ketiga gempa yang terjadi termasuk dalam kategori kecil, informasi awal dari BMKG menunjukkan pentingnya kecepatan dalam penyampaian berita kepada masyarakat.
BMKG mengingatkan bahwa parameter terkait gempa dapat berubah seiring dengan pembaruan data. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti informasi resmi dari BMKG.
Hingga Jumat malam, belum ada laporan kerusakan masa atau korban jiwa akibat ketiga gempa tersebut. Pemerintah daerah setempat juga belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai keadaan darurat.
Tingginya aktivitas gempa di região Sulawesi ini menandakan perlunya masyarakat tetap menyadari potensi risiko bencana alam dan pentingnya sistem pemetaan serta informasi yang baik untuk mitigasi risiko di masa mendatang.
