Pergantian Pimpinan BGN Wajib Dipandang Sebagai Pembangunan Kembali Program MBG!

Jakarta, Maret.id — Langkah Presiden Prabowo Subianto dalam pergantian kepemimpinan di Badan Gizi Nasional (BGN) mendapatkan sambutan positif dari Ketua Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Bidang Pertanian dan Ketahanan Pangan, Laca. Menurutnya, tindakan tersebut merupakan respons nyata pemerintah terhadap masukan serta kritik masyarakat mengenai pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai daerah.
Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis
Laca menyatakan bahwa evaluasi yang dilakukan oleh Presiden bukanlah keputusan yang tiba-tiba, melainkan sebuah hasil dari pengamatan dan penilaian yang terukur terhadap kinerja lembaga. “Presiden Prabowo telah menunjukkan keberanian dan ketegasan dalam mengambil keputusan. Program sebesar Makan Bergizi Gratis menyangkut masa depan jutaan anak Indonesia sehingga tidak boleh dikelola secara biasa-biasa saja,” ungkap Laca dalam keterangan yang diterima di Jakarta.
Dijelaskan bahwa program MBG merupakan inisiatif strategis nasional yang dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak serta mendukung pembangunan sumber daya manusia untuk jangka panjang. Oleh karena itu, setiap masalah yang muncul dalam pelaksanaan program ini perlu menjadi perhatian serius pemerintah.
Masalah di Lapangan
Selama pelaksanaan program MBG, terdapat sejumlah masalah yang menjadi sorotan publik, mulai dari dugaan kasus keracunan makanan di beberapa sekolah hingga tantangan dalam pengelolaan layanan. Laca menegaskan bahwa kondisi ini menjadi salah satu alasan penting mengapa evaluasi menyeluruh terhadap manajemen BGN menjadi sebuah keharusan.
Lebih lanjut, penunjukan Nanik S. Deyang sebagai Kepala BGN yang baru dinilai sebagai langkah yang tepat. Nanik, yang memiliki latar belakang akademik di bidang biologi, dinilai paham akan aspek kesehatan dan gizi serta telah berpengalaman dalam sistem kerja BGN karena sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kepala BGN.
Harapan untuk Perbaikan
Laca berpendapat bahwa pengalaman Nanik menjadi modal penting untuk melakukan perbaikan tanpa memulai dari awal. Dengan pemahaman yang mendalam tentang masalah di lapangan, diharapkan pimpinan baru dapat segera mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas layanan program MBG.
“Nanik bukan figur yang datang dari luar sistem. Ia telah terlibat dalam proses perencanaan dan pelaksanaan program sejak awal. Karena itu, kami berharap proses pembenahan dapat dilakukan dengan lebih cepat dan tepat sasaran,” jelas Laca. Namun, ia juga menegaskan bahwa pergantian pimpinan tidak boleh sebatas seremoni politik.
Laca menambahkan bahwa tantangan terbesar justru terletak pada perbaikan tata kelola program secara menyeluruh dan memastikan setiap penyimpangan yang terjadi dapat ditindaklanjuti secara hukum. Ia menyebutkan bahwa program MBG adalah investasi besar negara dalam pembangunan generasi penerus.
“Keberhasilan program ini tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran yang digelontorkan pemerintah, tetapi juga oleh integritas, transparansi, dan akuntabilitas dari semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaannya,” pungkasnya.





