Kekalahan di Thomas Cup Dorong PBSI Lakukan Evaluasi Total Pelatih dan Atlet

Jakarta, Maret.id — Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) membuka kemungkinan melakukan perombakan struktur pelatih dan menerapkan sistem promosi-degradasi bagi atlet Pelatnas sebagai respons atas hasil di Thomas Cup 2026 di Denmark yang belum memenuhi target.
Rencana Perombakan Pelatih dan Sistem Promosi-Degradasi
Wakil Ketua Umum PBSI, Taufik Hidayat, menyampaikan bahwa perubahan susunan pelatih sangat mungkin dilakukan jika tidak ada peningkatan performa. Menurutnya, memberi kesempatan saja tidak cukup apabila hasil yang diharapkan tidak tercapai. PBSI mempertimbangkan penyegaran staf pelatih sekaligus menciptakan mekanisme yang lebih dinamis untuk pemanggilan dan pemulangan atlet, bukan lagi sekadar rutinitas di akhir tahun.
Taufik menambahkan bahwa pengenalan sistem promosi dan degradasi tidak serta-merta diterapkan dalam waktu dekat karena perlu kajian matang. “Kami di sini mencari solusi yang terbaik. Olahraga ini tidak bisa ditunggu lagi; tiap hari latihan, tiap minggu, tiap bulan ada pertandingan. Jadi tidak bisa. Kita cari formula yang terbaiknya bagaimana,” ujarnya di Jakarta.
Kegagalan di Thomas Cup dan Performa Tim Putri
Kegagalan tim putra menembus babak grup Thomas Cup 2026 menjadi catatan kelam, karena ini merupakan kali pertama Indonesia gagal lolos dari fase grup dalam sejarah keikutsertaan turnamen tersebut. Kepastian tersingkirnya tim putra datang setelah kekalahan pada laga terakhir grup melawan Prancis.
Di sisi lain, sektor putri mencapai semifinal tetapi kandas dan harus puas meraih medali perunggu setelah dikalahkan Korea Selatan. Hasil tersebut menandai kegagalan tim putri mencapai final untuk dua edisi beruntun.
Taufik menegaskan bahwa PBSI memikul tanggung jawab penuh atas hasil minor yang diraih Indonesia pada ajang Thomas & Uber Cup 2026 dan menegaskan komitmen federasi untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelatih dan atlet demi perbaikan prestasi ke depan.





