Nasional

Tiyo Ardianto Soroti Kompetensi Jubir Gerindra Terkait Penunjukan Nanik sebagai Kepala BGN!

Jakarta, Maret.id — Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) 2025, Tiyo Ardianto, melawan argumen Juru Bicara Partai Gerindra, Astrio Feligent, terkait penunjukan Nanik S Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru. Penunjukan ini terjadi setelah Dadan Hindayana diseret ke pengadilan karena dugaan korupsi program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Nanik S Deyang menggantikan Dadan Hindayana yang ditangkap bersama dua bawahannya. Tiyo Ardianto mempertanyakan kualitas dan kemampuan Nanik S Deyang dalam mengelola BGN, di mana seharusnya kompetensi diutamakan daripada loyalitas kepada Presiden Prabowo Subianto.

Kontroversi Pengangkatan Kepala BGN

Tiyo menekankan perlunya pemimpin BGN yang memiliki pemahaman mendalam tentang pengelolaan gizi. Ia mengungkapkan bahwa sosok pemimpin tersebut tidak boleh hanya berdasarkan kedekatan politik dengan Presiden. “Kita harus mempertimbangkan kompetensi dan moralitas, terutama di era saat ini,” ujarnya saat berdebat di televisi.

Menurut Tiyo, Nanik yang berasal dari latar belakang jurnalis tidak cocok untuk menjabat sebagai Kepala BGN. “Apa prestasi yang dimiliki Nanik dalam mengelola isu gizi nasional? Ini adalah pertanyaan yang harus dijawab,” tegas Tiyo.

Debat Panas di Media

Dalam dialog tersebut, Tiyo mempertanyakan hubungan antara profesi jurnalis dan pengelolaan gizi. Ia meminta Astrio menjelaskan kompetensi relevan yang dimiliki Nanik untuk posisi tersebut. “Jujur, keberadaan jurnalis di posisi ini memunculkan pertanyaan besar tentang kualifikasi dan keahlian yang benar-benar diperlukan,” lanjut Tiyo.

Astrio Feligent pun tak tinggal diam. Dia mempertanyakan apakah seorang jurnalis tidak memiliki kemampuan yang memadai. “Jika seorang wartawan memiliki kompetensi dalam bidang lain, apa masalahnya?” sindir Astrio. Namun, Tiyo menegaskan bahwa BGN memerlukan ahli gizi yang lebih terampil. “Kami butuh keahlian khusus, bukan sekadar loyalitas politis,” jawabnya.

Tanggapan dan Harapan Mahasiswa

Situasi ini memunculkan berbagai reaksi di kalangan mahasiswa dan masyarakat luas. Banyak yang berharap pemerintah lebih bijak dalam mempertimbangkan faktor kompetensi ketika menunjuk pejabat publik, apalagi dalam institusi yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat.

“Pemimpin BGN seharusnya memiliki latar belakang yang jelas dalam gizi dan kesehatan, bukan hanya terpilih berkat hubungan politik,” ungkap Tiyo. Dengan adanya debat ini, diharapkan dapat membuka mata tentang pentingnya memilih pemimpin yang berkualitas dan tidak terjebak dalam loyalitas semata.

Ketegangan antara para pemimpin mahasiswa dan figur politik akan terus mengguncang isu-isu kebijakan publik. Nanik S Deyang sebagai Kepala BGN saat ini akan menjadi sorotan apakah ia akan mampu memenuhi harapan masyarakat dalam mengelola program gizi bagi rakyat Indonesia. Dalam konteks ini, perdebatan mengenai kompetensi dan loyalitas politik semakin relevan untuk dibahas di ruang publik.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button