Penangkapan Dadan Hindayana Cs Dinilai Hanya Alih Konflik, Tiyo Ardianto Sebut Sebagai Kambing Hitam!

Jakarta, Maret.id — Tiyo Ardianto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) 2025, mengungkapkan pendapatnya mengenai penangkapan mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, bersama dua rekanannya. Kasus ini mengundang perhatian publik, terutama terkait dengan dugaan adanya skenario penumbalan.
Dugaan Skenario Penumbalan
Tiyo menilai bahwa penangkapan Dadan Hindayana bisa jadi merupakan bentuk pengalihan isu yang lebih besar. Ia menjelaskan bahwa serangan publik yang sebelumnya ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto kini beralih kepada Dadan.
Menurut Tiyo, ini menciptakan kesan bahwa Dadan menjadi kambing hitam dalam situasi yang lebih rumit. “Cuma penumbalan supaya medan konflik yang awalnya nyerang presiden jadi nyerang Pak Dadan,” ujarnya. Tiyo menambahkan bahwa tindakan tersebut menunjukkan bahwa fokus publik diubah untuk melindungi kepentingan tertentu.
Kritik Terhadap Penunjukan Nanik S Deyang
Selain berbicara mengenai penangkapan Dadan, Tiyo juga mempertanyakan penunjukan Nanik S Deyang sebagai kepala BGN yang baru. Ia mencurigai bahwa penunjukan ini termasuk dalam konteks yang sama dengan penangkapan Dadan, di mana Dadan dijadikan sasaran untuk mengalihkan perhatian dari masalah yang lebih besar.
“Jadi, menjadikan Pak Dadan sebagai kambing hitam menunjukkan pola yang telah terjadi sebelumnya,” tandasnya. Ia menambahkan bahwa tindakan seperti ini merupakan karakteristik dari pendekatan Prabowo yang cenderung mementingkan citra sebagai penyelamat.
Kasus Korupsi di BGN
Penangkapan Dadan Hindayana dan dua orang lainnya, yakni Wakil Kepala BGN Lodewyk Pusung dan Sony Sonjaya, berawal dari pengusutan kasus dugaan korupsi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola oleh BGN tahun 2025-2026. Kejaksaan Agung (Kejagung) telah menetapkan ketiga orang ini sebagai tersangka dalam kasus tersebut.
Dari informasi yang dihimpun, program MBG bertujuan untuk memberikan akses makanan bergizi kepada masyarakat, namun diduga terjadi penyalahgunaan dalam pelaksanaannya. Tiyo Ardianto mengaitkan kritiknya terhadap program ini dengan kebijakan yang diambil oleh Presiden Prabowo, yang ia sebut tidak tepat.
Berdasarkan penangkapan ini, publik diharapkan dapat lebih kritis terhadap penggunaan anggaran negara, khususnya yang berkaitan dengan program-program yang seharusnya memberikan manfaat bagi masyarakat. Tiyo juga menegaskan bahwa penting untuk terus mengawasi kebijakan dan praktik yang dijalankan oleh pemerintah.
Kasus ini tidak hanya mengguncang BGN, tetapi juga turut melibatkan reputasi pemerintahan saat ini. Dengan latar belakang tersebut, masyarakat kini lebih waspada terhadap kemungkinan adanya skandal-skandal lain yang mungkin bermunculan di masa mendatang.





