PVMBG Imbau Warga Nusa Tenggara Timur Gunakan Masker Pasca Hujan Abu Gunung Lewotobi

Flores Timur, Maret.id — Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan imbauan kepada masyarakat yang terkena dampak hujan abu vulkanik dari erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Warga diminta untuk menggunakan masker untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat abu vulkanik.
Kejadian Erupsi yang Mengkhawatirkan
Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki terjadi pada Minggu, 7 Juni 2026, dengan kolom abu teramati mencapai sekitar 1.500 meter di atas puncak gunung. Dalam laporan PVMBG, erupsi ini terpantau pada pukul 09.23 WITA, menghasilkan kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas yang cukup tebal, yang mengarah ke barat dan barat laut.
M. Nurdiansyah Dwi Laksona, petugas Pos Pengamatan Gunung Lewotobi, mengingatkan masyarakat yang terdampak. “Masyarakat yang terkena hujan abu diimbau untuk menggunakan masker atau alat penutup hidung dan mulut. Ini penting untuk melindungi sistem pernapasan dari bahaya abu vulkanik,” jelasnya.
Status Siaga dan Langkah Peringatan
Saat ini, Gunung Lewotobi Laki-laki berada pada status Level III atau Siaga. Dengan status ini, pihak berwenang menghimbau agar masyarakat, wisatawan, dan pengunjung tidak melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi. Langkah ini diambil untuk memastikan keselamatan semua pihak yang berada di sekitar kawasan berisiko.
Selain itu, PVMBG mengingatkan masyarakat untuk tetap tenang dan mengikuti arahan pemerintah daerah. Penting juga untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas asal-usulnya. Hal ini menjadi esensial mengingat bahwa situasi seperti ini seringkali memicu penyebaran berita yang tidak akurat.
Waspada Terhadap Banjir Lahar Hujan
PVMBG juga menekankan potensi terjadinya banjir lahar hujan, terutama jika terjadi curah hujan tinggi. Warga di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Lewotobi Laki-laki diimbau untuk lebih waspada, terutama di lokasi seperti Dulipali, Padang Pasir, Nobo, dan beberapa daerah lainnya yang lebih rentan.
Pemerintah daerah diminta untuk terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Lewotobi di Desa Pululera, Kecamatan Wulanggitang, dan PVMBG di Bandung. Koordinasi ini diharapkan dapat membantu dalam memantau perkembangan aktivitas vulkanik secara berkala.
Kesimpulan
Dengan meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki, perhatian dan kewaspadaan masyarakat menjadi hal yang sangat penting. Dengan mengikuti imbauan dari PVMBG dan pihak berwenang, masyarakat diharapkan dapat melindungi diri mereka dari bahaya yang ditimbulkan oleh abu vulkanik dan potensi bencana terkait lainnya. Keamanan bersama adalah prioritas, dan upaya kolaboratif antara masyarakat dan pemerintah diperlukan untuk menghadapi situasi ini dengan bijaksana.
