UPWELLING: Fenomena Laut yang KAYA IKAN!

Jakarta, Maret.id — Di balik melimpahnya hasil tangkapan ikan di sejumlah perairan Indonesia, terdapat proses alam yang terus berlangsung. Fenomena yang dikenal dengan nama upwelling ini adalah naiknya massa air kaya nutrisi dari kedalaman laut menuju permukaan.
Proses Alami yang Menguntungkan
Upwelling merupakan proses ketika air dari lapisan laut dalam bergerak perlahan menuju permukaan perairan. Air yang terangkat membawa nutrisi melimpah yang sangat dibutuhkan oleh berbagai organisme laut untuk tumbuh dan berkembang.
Ketika nutrisi tersebut mencapai permukaan, fitoplankton akan berkembang lebih cepat berkat ketersediaan pasokan makanan dan sinar matahari. Fitoplankton adalah organisme mikroskopis yang berfungsi sebagai dasar rantai makanan bagi banyak jenis ikan dan biota laut lainnya.
Produktivitas Perairan yang Tinggi
Wilayah yang mengalami upwelling biasanya memiliki tingkat produktivitas perairan yang lebih tinggi dibandingkan daerah lain. Oleh karena itu, kawasan upwelling menjadi lokasi penting bagi para nelayan untuk melakukan aktivitas penangkapan ikan.
Menurut Widodo Setiyo Pranowo, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, fenomena upwelling ini mulai terdeteksi di Samudera Hindia, khususnya di selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Laut Sawu, dan Timor. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan produktivitas di berbagai kawasan tersebut.
Indikator dan Faktor Pendorong
Widodo mengungkapkan bahwa proses upwelling ditandai dengan penurunan suhu permukaan laut, peningkatan salinitas, serta munculnya arus vertikal ke atas. Peningkatan konsentrasi klorofil juga menjadi indikator penting keberadaan aktivitas upwelling di perairan.
Selain di jalur selatan Indonesia, peningkatan produktivitas juga ditemukan di beberapa daerah laut lainnya, seperti Laut Banda bagian selatan, Laut Arafura, dan perairan barat Sumatra serta Andaman. Namun, penting untuk dicatat bahwa peningkatan produktivitas laut tidak hanya bergantung pada proses upwelling.
Faktor lain seperti arus laut, pasang surut, serta pencampuran massa air juga berperan signifikan dalam produktivitas perairan. Contohnya, peningkatan produktivitas di Laut Arafura mungkin disebabkan oleh pencampuran massa air akibat angin kuat, sementara di barat Sumatra, interaksi arus laut berkontribusi terhadap fenomena ini.
Berdasarkan analisis terkini, memasuki awal Juni 2026, fase awal upwelling musim timur sudah dimulai. Aktivitas ini diperkirakan akan terus berkembang dan perlu diamati hingga sampai bulan Juli dan Agustus mendatang.
Para peneliti saat ini terus memantau perkembangan upwelling melalui pengamatan terhadap suhu laut, salinitas, dan kandungan klorofil. Pemantauan yang berkelanjutan ini sangat penting untuk memahami dinamika laut serta mendukung pengelolaan sumber daya perikanan nasional.
Dengan memahami fenomena upwelling, masyarakat dapat lebih mengerti alasan dibalik melimpahnya hasil tangkapan di perairan Indonesia. Fenomena ini menunjukkan bahwa proses alam memiliki peran penting dalam menjamin kesuburan laut serta ketahanan pangan nasional.



