Kemenhut Gandeng YKAN Luncurkan Strategi Baru untuk Selamatkan Hutan Indonesia!

Jakarta, Maret.id — Kementerian Kehutanan Republik Indonesia bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) secara resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk memperkuat pengelolaan hutan berkelanjutan di Indonesia. Kolaborasi ini memanfaatkan pendekatan berbasis sains dan melibatkan multipihak untuk mencapai tujuan konservasi yang lebih baik.
Penguatan Kerja Sama Sektor Kehutanan
MoU ini bertujuan mendukung transformasi sektor kehutanan nasional sekaligus mempercepat pencapaian target iklim Indonesia, termasuk dalam program FOLU Net Sink 2030. Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan, Mahfudz, menekankan bahwa sektor kehutanan menghadapi tantangan yang kompleks, yaitu menyelaraskan perlindungan ekologi sebagai penyangga kehidupan dengan upaya pembangunan ekonomi yang bergantung pada pemanfaatan sumber daya hutan.
Mahfudz juga menggarisbawahi perlunya pendekatan kebijakan yang tepat dan terintegrasi. “Kompleksitas isu kehutanan saat ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah, dunia usaha, akademisi, maupun organisasi masyarakat sipil,” tuturnya dalam keterangan tertulis.
Peran Penting YKAN
Keterlibatan YKAN sebagai mitra pembangunan di dalam kerja sama ini diharapkan dapat membuka ruang untuk mengakomodasi jejaring, pengalaman, serta praktik terbaik dari berbagai wilayah dan komunitas yang dimiliki oleh YKAN. Hal ini diharapkan dapat memperkuat agenda pembangunan kehutanan di masa yang akan datang.
Penandatanganan MoU ini juga merupakan kelanjutan dari kolaborasi yang telah terjalin sebelumnya, khususnya antara Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) dengan YKAN pada periode 2021 hingga 2026. Kolaborasi ini berfokus pada penguatan fungsi kawasan konservasi serta perlindungan keanekaragaman hayati yang ada.
Ruang Lingkup Kerja Sama
Beberapa poin yang menjadi ruang lingkup kerja sama kali ini antara lain adalah pengembangan dan penguatan kebijakan perlindungan terhadap sistem penyangga kehidupan dan area preservasi. Kerja sama ini juga mencakup penyediaan data, informasi, dan kajian ilmiah yang dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan.
Lebih lanjut, kerja sama ini akan mendorong penguatan fungsi konservasi keanekaragaman hayati di kawasan konservasi maupun di hutan produksi, terutama di wilayah prioritas. Kedua pihak sepakat untuk menerapkan pendekatan spasial, seperti Development by Design, yang menggunakan data ilmiah untuk memperbaiki perencanaan di kawasan hutan produksi.
Dengan pendekatan ini, diharapkan agar kawasan hutan yang sensitif dan mudah rusak akibat aktivitas manusia atau perubahan lingkungan dapat memperoleh prioritas perlindungannya. Melalui langkah-langkah kolaboratif ini, diharapkan pengelolaan hutan yang lebih berkelanjutan dapat tercapai dan memberikan manfaat lebih besar bagi keberlangsungan ekosistem serta masyarakat.





