Jangan Terpikat Personal Branding Semu: Mahasiswa Perlu Fokus pada Nilai dan Manfaat

Yogyakarta, Maret.id — Fenomena personal branding di kalangan mahasiswa dinilai bergeser dari upaya membangun kompetensi menjadi pencitraan digital yang mengejar popularitas di media sosial, sehingga memicu tekanan psikologis dan kelelahan identitas pada generasi muda. Pernyataan ini disampaikan Ahmad Luthfi, Manajer Akademik Keilmuan Magister Informatika dan Dosen Jurusan Informatika Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, dalam webinar “Personal Branding untuk Mahasiswa Digital” yang digelar Program Studi Informatika Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) UII pada Sabtu, 9 Mei 2026.
Peralihan Orientasi: Dari Kompetensi ke Pencitraan
Ahmad Luthfi menyoroti bahwa budaya digital yang serba cepat menghadapkan mahasiswa pada tekanan untuk terus tampil dan mengejar engagement. Aktivitas di ruang digital—termasuk unggahan, komentar, dan jejak digital lain—tidak lagi sekadar arsip pribadi, melainkan membentuk persepsi publik dan berpotensi menjadi bagian dari identitas profesional di masa depan. “Setiap unggahan, komentar, dan aktivitas digital membentuk persepsi tentang siapa kita. Karena itu personal branding tidak boleh berhenti pada pencitraan semata, tetapi harus dibangun di atas nilai dan karakter,” ujarnya.
Dalam paparan yang sama, ia mengidentifikasi tiga persoalan utama pada fenomena branding modern: over-exposure dan pencitraan semu; ketergantungan pada validasi berupa likes dan followers; serta kesenjangan antara identitas online dan realitas kehidupan sehari-hari. Menurut Ahmad, akumulasi tekanan tersebut dapat memicu kelelahan identitas pada generasi digital.
Pendekatan Insan Ulil Albab dan Pilar Personal Branding
Sebagai solusi, webinar menawarkan pendekatan personal branding berbasis konsep insan ulil albab yang mengintegrasikan zikir, fikir, dan amal dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pendekatan ini, branding dimaknai sebagai representasi nilai, akhlak, kompetensi, dan kontribusi sosial—bukan sekadar upaya membangun popularitas.
Ahmad menekankan perlunya menggeser orientasi mahasiswa digital dari sekadar “terlihat” menjadi “bermanfaat”. Ukuran keberhasilan personal branding, menurutnya, harus mencakup tingkat kepercayaan, kredibilitas, dampak, dan kemampuan berkolaborasi, bukan hanya pertumbuhan jumlah pengikut. “Kompetisi sejati mahasiswa digital bukan tentang siapa paling terlihat, tetapi siapa yang paling banyak memberi manfaat,” kata dia.
Webinar tersebut memperkenalkan tiga pilar utama personal branding untuk mahasiswa digital: spiritual core (inti spiritual), intellectual expression (ekspresi intelektual), dan social impact (dampak sosial). Implementasinya meliputi etika digital, kemampuan berpikir kritis, keberanian berbagi pengetahuan, serta penciptaan karya nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Selain itu, acara juga menekankan pentingnya etika digital seperti verifikasi informasi sebelum membagikan, menghindari wacana beracun (toxic discourse), dan menjaga konsistensi antara identitas online dan kehidupan nyata. Dengan pendekatan tersebut, diharapkan mahasiswa mampu membangun kehadiran digital yang kuat sekaligus bernilai edukatif, etis, dan memberikan kontribusi positif bagi ruang digital dan masyarakat secara luas.





