Konflik Timur Tengah Memanas, Sekjen PBB Peringatkan Gangguan Pasokan Energi Global!

Jakarta, Maret.id — Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa eskalasi kekerasan di Timur Tengah berisiko memicu kembali perang terbuka dan memiliki konsekuensi yang meluas melebihi kawasan tersebut.
Peringatan kepada pihak-pihak yang terlibat
Guterres menyampaikan keprihatinan ini dalam sidang Dewan Keamanan PBB mengenai mediasi dan dialog di Timur Tengah pada Rabu, 10 Juni 2026. Ia mendesak semua pihak untuk mematuhi dan melaksanakan gencatan senjata yang telah disepakati.
Guterres mengatakan bahwa minggu terakhir mencatat serangkaian serangan yang lebih luas dan memburuknya situasi sehingga meningkatkan risiko konflik penuh kembali terjadi. Ia menegaskan perlunya langkah-langkah diplomatik segera untuk mencegah lonjakan kekerasan yang lebih besar.
Dampak regional dan global
Sekjen PBB memperingatkan bahwa ketidakstabilan yang berkelanjutan dapat berdampak global, termasuk gangguan pada ekonomi dunia, rantai pasokan, dan harga pangan. Ia menambahkan bahwa konsekuensi kemanusiaan di dalam kawasan juga semakin berat dan membutuhkan perhatian internasional.
Guterres menyoroti bahwa meningkatnya operasi militer di perbatasan, terutama di wilayah Lebanon, berpotensi memperluas konflik jika tidak diatasi secara diplomatis. Ia menegaskan pentingnya penghormatan terhadap kedaulatan negara-negara yang terdampak dan penerapan resolusi Dewan Keamanan yang relevan.
Kondisi di Lebanon dan perbatasan Israel
Mengenai situasi di Lebanon, Guterres mencatat adanya peningkatan serius dalam beberapa bulan terakhir, dengan Israel memperkuat operasi militernya dan Hizbullah merespons dengan serangan yang lebih dalam ke wilayah Israel. Kondisi tersebut, menurutnya, menimbulkan risiko eskalasi lintas-batas yang sulit dikendalikan.
Ia mengimbau semua pihak untuk segera menahan diri dan menegakkan perjanjian gencatan senjata, dengan pernyataan tegas bahwa “tidak ada lagi serangan” harus menjadi prinsip dasar untuk mengurangi ketegangan. Upaya mediasi dianggap krusial agar langkah-langkah preventif dapat diimplementasikan.
Kronologi serangan terbaru dan respons
Peringatan Guterres datang setelah Amerika Serikat melakukan serangan terhadap sistem pertahanan udara Iran, instalasi radar, dan pos komando di dekat Selat Hormuz menggunakan jet tempur dan amunisi berpemandu presisi. Washington menyatakan operasi itu dilakukan sebagai tindakan pembelaan setelah insiden jatuhnya sebuah helikopter Apache Angkatan Darat AS.
Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan telah melancarkan serangan berat terhadap pangkalan udara dan fasilitas angkatan laut AS di wilayah tersebut, menggambarkan aksi itu sebagai respons terhadap apa yang disebutnya agresi dari pihak Amerika. Aksi saling serang ini mengikuti bentrokan terkini antara Israel dan Iran pada hari Minggu, yang disebut sebagai yang pertama sejak rapuhnya gencatan senjata pada April lalu.
Guterres menekankan bahwa pertukaran serangan lintas negara seperti ini meningkatkan risiko salah perhitungan yang bisa mengarah pada konflik yang lebih besar. Ia menyerukan penghentian provokasi militer dan pengembalian fokus pada jalur diplomasi untuk meredakan ketegangan.
Seruan untuk jalur diplomasi
Sekretaris Jenderal PBB kembali menegaskan pentingnya solusi diplomatik yang menghormati kedaulatan semua negara yang terlibat dan mematuhi ketentuan Dewan Keamanan. Ia menyoroti peran aktor internasional dan regional untuk memfasilitasi dialog yang dapat menurunkan eskalasi.
Guterres menutup pesannya dengan imbauan agar komunitas internasional memperkuat upaya kemanusiaan dan politik untuk mencegah krisis yang lebih luas, serta memastikan akses bantuan bagi warga sipil yang terdampak. Ia menekankan bahwa upaya bersama dan kepatuhan terhadap aturan internasional adalah jalan utama untuk menjaga stabilitas di kawasan.





