Krisis 1998 Tinggalkan Trauma Strategis yang Mengancam Stabilitas Nasional!

Jakarta, Maret.id — Peristiwa krisis multidimensi yang melanda Indonesia tidak hanya mempengaruhi aspek ekonomi, tetapi juga mengubah struktur politik, sosial, dan keamanan nasional. Hal ini menciptakan tantangan yang kompleks bagi pemerintah saat ini untuk mengembalikan stabilitas dan kepercayaan masyarakat.
Dampak Krisis Ekonomi Terhadap Kebijakan Nasional
Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, mengatakan bahwa banyak kalangan nasionalis melihat periode setelah 1998 sebagai fase ketergantungan Indonesia pada mekanisme pasar global. “Krisis 1998 meninggalkan trauma strategis. Dari sudut pandang sebagian elite nasionalis, Indonesia kini lebih rentan terhadap pengaruh eksternal, baik melalui pasar keuangan, perdagangan internasional, maupun penguasaan teknologi,” ujarnya dalam sebuah wawancara.
Merespon kondisi ini, Presiden Prabowo Subianto, telah menekankan pentingnya swasembada pangan, hilirisasi industri, penguatan pertahanan, dan kemandirian energi sebagai bagian dari agenda pembangunan nasional. “Pernyataan Prabowo harus dilihat dalam konteks perubahan geopolitik global yang tengah berlangsung,” tambah Amir.
Perubahan Geopolitik yang Mempengaruhi Indonesia
Dominasi negara-negara Barat pasca-Perang Dingin kini mulai menghadapi tantangan dari kekuatan-kekuatan baru seperti China dan India, serta kelompok ekonomi BRICS. “Dunia saat ini memasuki era multipolar. Negara-negara yang tidak memiliki dasar ekonomi dan industri yang kuat akan sulit bersaing. Karena itu, isu kemandirian nasional menjadi sangat relevan,” jelas Amir lebih lanjut.
Dalam acara pembukaan Musyawarah Nasional HIPMI XVIII di Bandar Lampung, Prabowo Subianto juga mengungkapkan keprihatinannya akan arah pembangunan Indonesia yang dinilai telah melenceng sejak dekade 1990-an. Presiden menekankan bahwa pengalaman politiknya yang panjang, termasuk empat kali kekalahan dalam kontestasi pemilihan, membentuk visinya untuk negara yang lebih mandiri dan berdaulat.
Visi Masa Depan Indonesia
Prabowo menyatakan bahwa perjuangannya untuk menjadi pemimpin bangsa dimulai pada tahun 2004 dan baru terwujud pada Pilpres 2024 lalu. Dia mencatat bahwa keinginannya untuk memimpin selalu berlandaskan pada cita-cita menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang kuat dan mandiri.
Amir Hamzah menilai bahwa dengan gagasan-gagasan yang diusung oleh Prabowo, terdapat harapan bagi Indonesia untuk lebih mempertahankan marwah kemandiriannya di kancah global. Di tengah situasi dunia yang kian dinamis, dukungan untuk kebijakan dalam negeri yang kuat akan menjadi kunci bagi masa depan Indonesia.





