Gaya Hidup

Waspada Hantavirus: Peta Penyebaran dan Wilayah Terdampak di Dunia

Jakarta, Maret.id — Hantavirus kembali menjadi sorotan publik setelah dikaitkan dengan beberapa kasus yang menimpa kru kapal pesiar belakangan ini. Meski mendapat perhatian baru-baru ini, virus ini bukanlah penyakit baru di Indonesia maupun dunia.

Apa itu hantavirus?

Hantavirus adalah penyakit zoonosis yang ditularkan lewat tikus dan hewan pengerat lain seperti celurut. Virus dari genus Orthohantavirus ini dapat menyebabkan gangguan pernapasan hingga kerusakan ginjal yang serius. Gejala awal umumnya meliputi demam, nyeri otot, mual, dan kelelahan berlebihan; pada beberapa kasus infeksi dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan berat atau sindrom gagal ginjal yang mengancam jiwa.

Sejarah penemuan dan perkembangan penelitian

Penelitian terkait hantavirus dimulai sejak era 1950-an setelah Perang Korea, ketika ribuan tentara menunjukkan gejala demam berdarah misterius. Kasus itu menyerang sekitar 3.000 personel Pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa, namun penyebab pasti baru diidentifikasi beberapa dekade kemudian. Pada 1978, ilmuwan berhasil mengisolasi virus dari hewan pengerat Apodemus agrarius di Korea Selatan — ditemukan di sekitar Sungai Hantan dan kemudian dinamai virus Hantaan. Pada 1981, genus Hantavirus diperkenalkan dalam famili Bunyaviridae sebagai penyebab haemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS). Perkembangan selanjutnya termasuk wabah di Amerika Serikat pada 1993 yang menimbulkan hantavirus pulmonary syndrome (HPS).

Jenis hantavirus dan persebaran global

Seiring waktu, hantavirus terdeteksi di berbagai wilayah dunia dengan tipe yang berbeda-beda, bergantung pada habitat hewan pengerat pembawa. Beberapa tipe utama meliputi:
– Virus Hantaan: dominan di Asia Timur (China, Korea Selatan, sebagian Rusia) dan penyebab utama HFRS di kawasan Asia.
– Virus Puumala: tersebar di Skandinavia, Eropa Barat, dan Rusia bagian barat; umumnya menyebabkan infeksi ringan hingga sedang.
– Virus Dobrava: ditemukan di kawasan Balkan dan sebagian Eropa Timur; berisiko menyebabkan gangguan ginjal dengan tingkat fatalitas lebih tinggi.
– Virus Saaremaa: tersebar di Eropa Tengah dan utara Skandinavia, terkait populasi tikus liar di kawasan hutan.
– Virus Seoul: memiliki persebaran paling luas secara global, sering dikaitkan dengan tikus rumah dan perkotaan padat penduduk.
– Virus Sin Nombre: dominan di Amerika Serikat dan beberapa wilayah Kanada, menjadi penyebab utama HPS di Amerika Utara.
– Virus Andes: banyak ditemukan di Amerika Selatan, khususnya Argentina dan Chile, dan diketahui memiliki tingkat penularan serta fatalitas yang cukup tinggi.

Situasi di Indonesia dan imbauan pencegahan

Penelitian menunjukkan hantavirus telah terdeteksi di Indonesia sejak era 1980-an. Kementerian Kesehatan mencatat 23 kasus hantavirus tipe Seoul dalam tiga tahun terakhir, dengan tiga pasien dilaporkan meninggal. Pada 2026, tambahan kasus juga tercatat di sejumlah daerah termasuk DKI Jakarta dan DIY. Kasus lain tercatat di Sumatera Barat, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, hingga Sulawesi Utara. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, menutup akses tikus ke tempat tinggal dan penyimpanan makanan, serta segera berkonsultasi dengan fasilitas kesehatan jika muncul gejala yang dicurigai.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button