Politik

Manuver Tegas DPD PDI Perjuangan di Semeru

Jakarta, Maret.id — Kolaborasi yang menggabungkan musik dan tari menghiasi acara pelantikan Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan se-Kabupaten Lumajang di Bumi Perkemahan Glagah Arum, pada Sabtu pagi, 13 Juni 2026. Acara tersebut tidak hanya berlangsung dengan formalitas pidato, tetapi juga dimeriahkan oleh pertunjukan seni yang menarik perhatian ribuan kader yang hadir.

Pertunjukan Seni yang Menggetarkan

Saat kabut tipis merayap di sekitar Gunung Semeru, ribuan kader PDI Perjuangan berkumpul penuh semangat. Namun, sebelum pidato pembuka dilaksanakan, perhatian semua orang dialihkan kepada pertunjukan musik dan tari. Dengan suasana yang tenang, alunan musik perlahan mengalir dari panggung dan menggugah semangat peserta.

Kolaborasi antara Wong Telu Production yang membawakan jingle berjudul ‘Menang Hattrick’ dengan tari ‘Dedication of Life’ dari Diamond Art Performance pun menambah kehangatan acara. Para kader yang awalnya sibuk berkomunikasi mulai terfokus pada penampilan yang harmonis ini, merespons dengan tepuk tangan dan sorakan semangat.

Memadukan Tradisi dan Modernitas

Dian Surya Ardiani, pencipta lagu sekaligus pendiri Wong Telu Production, mengungkapkan bahwa karya tersebut dirancang dengan pendekatan yang inovatif. Ia percaya bahwa generasi muda masa kini perlu diajak berbicara dalam bahasa yang mereka pahami, bukan hanya disuguhkan dengan nostalgia.

“Lagu ini bukan sekadar irama. Ini adalah harapan yang diusung tentang semangat dan optimisme,” ujarnya. Dalam kolaborasi ini, unsur musik tradisional diharmoniskan dengan elemen modern seperti rap, menjadikannya lebih relevan bagi generasi muda.

Koreografi ‘Dedication of Life’ yang dipentaskan oleh Diamond Art Performance tidak hanya memikat dengan keindahan gerak, tetapi juga menyampaikan pesan dedikasi dan keberanian. Tarian ini mengusung inspirasi dari sejarah perjuangan Bung Karno yang mendorong semangat pengabdian kepada bangsa.

Pelestarian Budaya dengan Sentuhan Modern

Kreativitas para seniman terlihat dalam upaya memasukkan identitas lokal Lumajang ke dalam pertunjukan. Tari Topeng Kaliwungu dan Tari Godril, sebagai dua warisan budaya lokal, tampil berbuah dialog yang harmonis dengan musik modern.

Rian Ariandi, koreografer dari Diamond Art Performance, menjelaskan bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan dengan cara tradisional. “Budaya dapat tampil segar dan relevan bagi anak muda, tanpa kehilangan identitas aslinya,” katanya.

Selain menjadi pertunjukan seni, acara tersebut memvisualisasikan upaya anak muda Lumajang dalam menjaga warisan budaya. Mereka meyakini bahwa tradisi tetap bisa hidup dan dihormati di tengah arus modernitas yang terus berkembang.

Saat matahari mulai bersinar di atas Semeru pada pagi itu, pesan yang tersampaikan sangat jelas: perjuangan bisa diungkapkan dalam berbagai cara, baik lewat musik yang energik maupun tari yang berharga. Perjuangan generasi muda untuk melestarikan budaya, semangat pengabdian dan dedikasi, adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button