Penderita Hipertensi dan Diabetes di Kabupaten Tangerang Melejit!

Jakarta, Maret.id — Jumlah penderita hipertensi dan diabetes melitus di Kabupaten Tangerang dilaporkan meningkat signifikan berdasarkan data layanan kesehatan daerah. Peningkatan ini mendorong otoritas kesehatan setempat memperkuat program pencegahan dan penanganan penyakit tidak menular (PTM).
Data resmi Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang mencatat pada 2025 terdapat 262.798 pasien hipertensi dan 95.149 pasien diabetes melitus yang mendapatkan layanan di puskesmas setempat. Hingga pertengahan 2026, Dinas mencatat 93.924 kasus hipertensi dan 35.745 kasus diabetes melitus yang sudah ditangani.
Lonjakan Kasus dan Faktor Penyebab
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi, menyatakan kenaikan kasus PTM dipengaruhi oleh kombinasi faktor keturunan dan gaya hidup. Minimnya aktivitas fisik, pola makan tidak seimbang, dan rendahnya kesadaran untuk pemeriksaan kesehatan berkala disebut sebagai pemicu utama peningkatan kasus.
Selain faktor perilaku, distribusi kasus tidak merata dengan konsentrasi kasus tertinggi berada di Kecamatan Kelapa Dua, Pasar Kemis, dan Cikupa. Peningkatan jumlah kasus dari tahun ke tahun menunjukkan perlunya intervensi berkelanjutan pada level komunitas.
Strategi Pencegahan dan Pelayanan Terpadu
Untuk menekan laju kenaikan PTM, Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang memperkuat edukasi kesehatan masyarakat serta melaksanakan program deteksi dini melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG). Pelayanan terpadu PTM di puskesmas melalui Integrasi Layanan Primer (ILP) juga diperluas untuk memudahkan akses layanan dasar.
Pemerintah daerah juga menempatkan dokter spesialis penyakit dalam di sejumlah puskesmas guna mempercepat rujukan dan diagnosis, serta menjalankan program paliatif bagi pasien PTM kronis seperti kanker, stroke, dan pasien cuci darah agar kualitas hidup tetap terjaga. Langkah-langkah ini diarahkan untuk menurunkan beban penyakit dan mencegah komplikasi jangka panjang.
Dampak Kenaikan Harga Obat dan Antisipasi Layanan Kesehatan
Kenaikan harga obat-obatan yang diperkirakan menyusul pelemahan nilai tukar rupiah menimbulkan kekhawatiran terhadap ketersediaan terapi bagi pasien kronis. Direktur RSUD Tigaraksa, Muhammad Faridzi Fikri, mengatakan rumah sakit menyiapkan stok cadangan obat sambil menunggu kepastian harga dari distributor.
Sementara itu Dinas Kesehatan mempertimbangkan penyesuaian jumlah obat yang diberikan per pasien untuk mengantisipasi potensi kelangkaan atau kenaikan biaya, meskipun upaya ini dipandang sebagai langkah sementara yang perlu disertai kebijakan subsidi atau dukungan logistik. Perkiraan awal dari pihak distributor menunjukkan potensi kenaikan harga obat di kisaran 15-20 persen, namun angka resmi belum diterbitkan.
Masyarakat diimbau meningkatkan kesadaran akan pemeriksaan kesehatan rutin dan perubahan pola hidup sehat sebagai langkah preventif utama untuk menahan laju peningkatan PTM. Pemerintah daerah diharapkan memperkuat kolaborasi dengan fasilitas kesehatan, apotek, dan pemangku kepentingan lain untuk menjaga ketersediaan obat serta mempertahankan mutu layanan bagi pasien kronis.