FIFA Larang Penggunaan Bahasa Ini dalam Konferensi Pers Piala Dunia!

Jakarta, Maret.id — Piala Dunia 2026 bukan sekadar ajang olah raga dunia, tetapi juga menciptakan polemik mendalam terkait komunikasi lintas budaya. Kontroversi terbaru muncul dari konferensi pers yang melibatkan tiga pemain bintang, yaitu Vinícius Júnior, Achraf Hakimi, dan Frenkie de Jong, di mana penggunaan bahasa Spanyol dibatasi, membuka perdebatan mengenai inklusi bahasa dalam arena global yang seharusnya bersifat universal.
Seorang jurnalis berupaya mengajukan pertanyaan dalam bahasa Spanyol kepada Hakimi, yang secara mumpuni menguasai bahasa tersebut. Namun, koordinator acara dengan tegas mengingatkan bahwa hanya beberapa bahasa yang memiliki fasilitas penerjemahan yang diperbolehkan, mengharuskan Hakimi untuk menjawab dalam bahasa Inggris. Alasan ini mengejutkan banyak kalangan yang hadir, khususnya karena Hakimi menunjukkan ketertarikan untuk berbicara dalam bahasa asalnya.
Baca juga
Semangat yang sama tercermin dalam acara serupa di mana Vinícius Júnior menghadapi seorang jurnalis yang bertanya dalam bahasa Inggris. Sang pemain Brasil dengan bijak mengarahkan jurnalis tersebut untuk mempertimbangkan penggunaan bahasa Spanyol. Namun, batasan yang sama memaksa jurnalis tersebut melanjutkan percakapan dalam bahasa Inggris. Meskipun Vinícius menjawab tanpa masalah, situasi ini menyoroti ketidaknyamanan yang dapat timbul dari pembatasan tersebut.
Kasus-kasus ini bukanlah insiden yang terisolasi. Pemain Barcelona dan tim nasional Belanda, Frenkie de Jong, juga terpaksa menjawab dalam bahasa Inggris meskipun kemampuan bahasa Spanyolnya terbilang baik, mengingat jam terbang yang dihabiskan di Catalonia. Ternyata, pembatasan ini jauh melampaui konvensi media semata; ini adalah refleksi dari tantangan yang dihadapi dalam interaksi internasional saat ini.
Alasan FIFA
Keputusan FIFA untuk membatasi penggunaan bahasa di konferensi pers tersebut didasari oleh alasan logistik. Mereka berupaya membatasi bahasa yang memerlukan penerjemahan langsung, demi menghindari komplikasi operasional. Namun, kebijakan ini menuai kritik tajam dari berbagai kalangan media dan pengamat, yang merasa bahwa pelarangan bahasa Spanyol sulit dibenarkan, terutama di wilayah di mana bahasa ini dominan.
Bahasa Spanyol merupakan salah satu bahasa yang paling banyak digunakan di dunia, serta memiliki posisi yang signifikan di Meksiko, yang turut menjadi tuan rumah Piala Dunia ini. Di sisi lain, Amerika Serikat, juga merupakan salah satu negara dengan populasi berbahasa Spanyol yang besar. Pembatasan ini dianggap sebagai tindakan yang kurang sensitif terhadap kelompok penonton serta media yang berkontribusi dalam penyebaran informasi seputar Piala Dunia.
Kritik terhadap keputusan FIFA semakin mengemuka, menyoroti perlunya kepekaan budaya dan pemahaman yang lebih dalam terhadap kekuatan bahasa dalam membangun jembatan antara pemain, media, dan penonton. Dengan gelaran Piala Dunia yang digelar di benua yang memiliki keragaman budaya besar, kebijakan semacam ini dapat mempunyai dampak signifikan bukan hanya seputar persiapan turnamen, tetapi juga memperkuat dialog antarbudaya di tingkat global.





