Indonesia Harus Perkuat Kepemimpinan Institusional Demi Masa Depan yang Stabil!

Jakarta, Maret.id — Rektor Universitas Harkat Negeri (UHN) Sudirman Said memberikan penegasan penting tentang model kepemimpinan yang ideal dalam acara Bimbingan Teknis Anggota DPRD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) se-Kalimantan, yang berlangsung di Jakarta. Dalam sambutannya, Sudirman menekankan bahwa kepemimpinan yang efektif harus mampu memfasilitasi keberlanjutan institusi terlepas dari perubahan personal di dalamnya.
Sudirman menjelaskan bahwa terdapat tiga pilar utama dalam model kepemimpinan yang ia tawarkan. Pilar pertama adalah kepemimpinan yang bersifat institusional, bukan populis. Ia berargumen bahwa otoritas seorang pemimpin harus berakar pada sistem serta aturan yang ada, alih-alih bergantung pada sorak-sorai massa yang bisa berubah-ubah. Hal ini menunjukkan pentingnya menciptakan struktur yang kokoh dalam suatu organisasi.
Kepemimpinan Kolektif sebagai Landasan
Pilar kedua yang disampaikan Sudirman adalah kepemimpinan yang kolektif, bukan personal. Ia menekankan bahwa kepemimpinan perlu dibagi dan dikader ke banyak pihak, bukan hanya terpusat pada satu individu untuk membesarkan namanya. Dengan cara ini, diharapkan setiap anggota institusi dapat berkontribusi secara maksimal tanpa harus mengorbankan identitas kolektif.
Sudirman juga menambahkan bahwa kepemimpinan yang efektif adalah yang intrinsik, bukan sekadar nominal. Ia menggarisbawahi pentingnya pemimpin yang memiliki wibawa yang tumbuh dari kapasitas dan keteladanan yang nyata, bukan hanya posisi atau gelar yang dipendam tanpa makna. Menurutnya, hal ini akan memberikan kepercayaan publik yang lebih besar terhadap kepemimpinan.
Pentingnya Orientasi Jangka Panjang
Sudirman mengingatkan bahwa godaan untuk mempersonifikasikan kekuasaan akan semakin kuat di saat politik kehilangan arah dan orientasi jangka panjang. Ia merujuk pada pandangan ekonom Dambisa Moyo, yang dalam bukunya “Edge of Chaos” menilai bahwa banyak politisi saat ini lebih fokus memenangkan pemilu ketimbang merawat kesehatan jangka panjang negara.
“Politik yang dikejar oleh urusan jangka pendek ini akan melahirkan mediokrasi, di mana sosok pemimpin menggantikan sistem, dan loyalitas personal menggeser akuntabilitas publik,” ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan keprihatinan Sudirman terhadap fenomena yang bisa berdampak negatif bagi pembangunan bangsa.
Menuju Kepemimpinan yang Berorientasi pada Masa Depan
Dalam acara tersebut, Sudirman Said menekankan bahwa untuk menciptakan sebuah kepemimpinan yang berorientasi pada masa depan, dibutuhkan kesadaran kolektif di kalangan anggota DPRD PKS tentang pentingnya kebijakan yang substantif. Hal ini akan mengurangi godaan untuk melakukan politik jangka pendek dan mengedepankan visi yang lebih besar.
Kepemimpinan yang berlandaskan pada prinsip-prinsip tersebut diharapkan dapat membawa perubahan positif bagi masyarakat dan negara, serta memastikan bahwa institusi tetap berjalan dengan baik meskipun terjadi perubahan dalam kepemimpinan.





