Petani Papua Dukung Gagasan Cetak Sawah Rakyat untuk Masa Depan Pertanian Nasional!

Jakarta, Maret.id — Di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat Papua, program Cetak Sawah Rakyat (CSR) yang digagas oleh pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah disambut dengan antusias oleh para petani setempat. Program ini dipandang sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan pangan yang terus berkembang sekaligus memberikan harapan baru bagi generasi muda di daerah tersebut.
Pembukaan Lahan Sawah Baru
Markus Homer, Kepala Kampung Tokas di Distrik Moswaren, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya, menyatakan bahwa masyarakat di daerahnya menerima dengan baik pembukaan 3.700 hektare lahan sawah melalui program CSR. Ini merupakan langkah penting untuk meningkatkan produksi pangan dan membantu masyarakat beradaptasi dengan perubahan kebutuhan konsumsi yang terjadi seiring waktu.
Menurut Markus, pemanfaatan lahan baru dan optimalisasi area yang sebelumnya kurang produktif memberikan harapan baru untuk memperkuat ketersediaan pangan. “Kami sangat antusias dengan program ini yang diturunkan oleh Presiden kepada kami orang Papua. Kami sangat senang karena pangan ini sangat penting bagi kehidupan kami ke depan,” tuturnya saat diwawancarai.
Konsolidasi Pembangunan Pertanian
Markus mengungkapkan rasa syukurnya saat menghadiri Konsolidasi Pembangunan Pertanian Wilayah Papua 2026. Acara ini dipimpin oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan dihadiri oleh sekitar 200 peserta dari berbagai daerah di Papua. Ia menjelaskan bahwa pola konsumsi masyarakat, terutama di kalangan generasi muda, telah beralih, dengan beras kini menjadi makanan pokok yang semakin akrab.
“Generasi kami sudah berubah, sudah canggih. Generasi sekarang tidak bisa hanya mengonsumsi makanan-makanan lokal. Mereka telah beradaptasi dengan makanan yang lebih umum seperti nasi,” tambahnya. Perubahan pola konsumsi ini mendorong pentingnya pengembangan lahan sawah yang dapat memastikan ketersediaan pangan secara berkelanjutan.
Pergeseran Cara Mengelola Lahan
Markus juga menyoroti pergeseran dalam cara masyarakat mengelola lahan. Dulunya, masyarakat terbiasa berpindah-pindah lokasi berkebun setiap enam hingga sembilan bulan. Kini, dengan perubahan zaman dan kebutuhan, pola tersebut semakin sulit untuk diterapkan. Oleh karena itu, keberadaan lahan sawah yang permanen menjadi pilihan yang relevan.
“Dari sekarang kita berkebun di satu lokasi, satu tempat. Kami sudah menerima 3.700 hektare yang dikerjakan di tahun 2025 dan pada tahun 2026 kami siap untuk tanam,” jelasnya. Hal ini menunjukkan komitmen dan keseriusan masyarakat setempat untuk membangun ketahanan pangan melalui pendekatan pertanian yang lebih modern dan terencana.
Elias R. Semih, Kepala Kampung Molase di Distrik Klamono, juga menegaskan dukungannya terhadap program CSR. “Masyarakat kami menerima program ini dengan baik karena diyakini dapat membawa perubahan positif bagi perekonomian warga,” ungkapnya. Dengan adanya program ini, harapan untuk kemandirian pangan di Papua semakin mendekati kenyataan.
Program CSR merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mengatasi tantangan pangan dan memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan. Melalui peningkatan produksi pertanian, diharapkan mampu mewujudkan kemandirian pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di seluruh Indonesia, khususnya di Papua.





