Olahraga

Donyell Malen Tantang Rekan Setim: Aku Gila dengan Hobi Ini!

Jakarta, Maret.id — Pesepakbola internasional asal Belanda, Donyell Malen, baru-baru ini mengungkapkan sisi lain dari kehidupannya di luar lapangan dengan memperlihatkan koleksi mobil pribadinya dalam sebuah tur garasi yang eksklusif. Dalam sesi bersama Jay Jay Boske dari DAY1, Malen, yang kini membela AS Roma, terbuka tentang kecintaannya terhadap otomotif dan nostalgia yang menyertainya.

Kecintaan Sejak Dini terhadap Otomotif

Malen mengungkap bahwa ketertarikannya terhadap mobil telah dimulai sejak masa kecil. “Semua berawal dari BMW saat masih kecil,” tuturnya, sembari mengenang saat-saat ia menghabiskan waktu menonton video di YouTube dan mengamati mobil-mobil yang lewat dari jendela rumahnya. Dalam koleksinya, BMW 320is menjadi salah satu yang paling personal, di mana Malen menegaskan bahwa model ini memiliki arti ikonik dalam hidupnya, mengingat ayahnya juga pemilik BMW.

Dengan ketekunan yang tinggi, Malen tidak ingin hanya membeli mobil tanpa pertimbangan matang. Ia sering memanfaatkan waktu di perjalanan untuk mencari mobil baru di internet dan berkomentar tentang kebiasaan rekan-rekannya. “Rekan setim selalu tertawa dan bilang: ‘Kamu gila!’ Sementara beberapa dari mereka menonton Netflix, aku malah membuka Autoscout,” candanya.

Koleksi Mobil Impresif

Koleksi mobil Malen terdiri atas berbagai model ikonik, termasuk BMW 1M, Golf GTI Clubsport S, Toyota GR Yaris, Porsche 911 GT3 Touring, dan Ferrari 458 Spider. Mobil Ferrari, khususnya, memegang kenangan manis. Dia menceritakan bagaimana kecintaannya tumbuh ketika ia menyetir Ferrari 812 bersama mantan agennya yang terkenal, Mino Raiola, di Monaco.

Rencana Malen ke depan adalah untuk menjaga koleksinya agar dapat ditunjukkan kepada anak-anaknya. Ia ingin mereka merasakan kebanggaan akan kesuksesan yang ia raih sebagai pesepakbola dan pilihan mobil yang diambil sebagai warisan dari pencapaiannya.

Musik Sebagai Gaya Hidup

Selain otomotif, Malen juga dikenal dengan kecintaannya terhadap musik. Di salah satu mobilnya tersemat sistem audio yang berkualitas tinggi, dan ia mengaku menyukai musik house. “Meskipun aku juga tumbuh besar mendengarkan 100% NL, René Froger, dan Ruth Jacott,” tuturnya, begitu antusias.

Bercanda tentang kemungkinan karir di dunia musik sebagai DJ setelah pensiun, Malen tampak ragu-ragu. “Saya memang suka melakukannya,” ungkapnya, sambil mengedipkan mata dan bertanya-tanya apakah dirinya berani tampil di depan publik.

Momen dalam ruang ganti tim nasional Belanda juga tak luput dari pembicaraan. Malen mengungkap terdapat daftar putar bersama di mana setiap pemain dapat menyumbang lagu untuk diputar. Meski demikian, ia tetap berhati-hati dalam pilihan lagu. “Lalu semua orang benar-benar berpikir: ‘Gordon tidak boleh lagi diputar sebelum pertandingan,’ hahaha. Itu adalah lagu pertama yang pernah saya masukkan ke dalamnya,” paparnya dengan tawa.

Dengan berbagi cerita-cerita ini, Malen tidak hanya mendorong aspirasi pribadi tetapi juga memberikan gambaran tentang bagaimana seorang atlet profesional dapat mengelola citra publiknya, menjalin hubungan dengan penggemar, dan membangun identitas yang lebih luas di luar kesuksesannya di dunia sepakbola.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button