Bahlil Desak Pemerintah Tetapkan Harga Minyak RI di RAPBN 2027 Rp70

Jakarta, Maret.id — Usulan pemerintah mengenai asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 mencerminkan perhatian yang mendalam terhadap dinamika pasar energi global serta perkembangan geopolitik yang sedang berlangsung. Dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengemukakan bahwa proyeksi harga minyak mentah adalah antara 70 hingga 95 Dolar AS per barel, dengan angka 70 Dolar AS sebagai patokan awal untuk tahun 2026.
“Harga 70 Dolar AS akan menjadi acuan kita pada 2026, tetapi pada 2027, kisaran harga diproyeksikan antara 70 Dolar AS hingga 95 Dolar AS,” ungkap Bahlil di Jakarta pada Senin malam, 15 Juni 2026. Dalam pernyatanya, Bahlil menegaskan bahwa pemerintah masih akan memantau perkembangan global hingga pertengahan tahun sebelum menetapkan angka final yang akan dimasukkan dalam RAPBN 2027.
Target Lifting Migas 2027
Selain pengusulan asumsi ICP, Kementerian ESDM juga menetapkan target lifting minyak dan gas (migas) untuk tahun 2027 sebesar 1.536-1.592 juta barel setara minyak per hari (BOEPD). Target tersebut mencakup lifting minyak bumi dan kondensat yang diperkirakan sebesar 602-615 ribu barel per hari (BOPD), serta lifting gas bumi sebesar 934-977 ribu BOEPD.
Bahlil menambahkan, “Kita akan mendapatkan angka yang lebih presisi sekitar bulan Juli dan Agustus,” sehingga semua data dapat diupdate sesuai dengan kondisi pasar yang aktual. Jika target-target ini tercapai, akan memberikan dampak positif bagi penerimaan negara yang signifikan.
Volume BBM Bersubsidi dan Subsidi Listrik
Dalam rapat tersebut, pemerintah juga mengusulkan volume bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi untuk 2027 berkisar antara 19,343 hingga 19,561 juta kiloliter. Sedangkan untuk LPG tiga kilogram, volume yang diusulkan mencapai sekitar 8 juta metrik ton.
“Volume subsidi tetap untuk minyak solar diperkirakan sebesar Rp1.000 per liter, sedangkan subsidi listrik akan berkisar antara Rp113,45 triliun hingga Rp122,83 triliun,” jelas Bahlil. Angka-angka ini menunjukkan upaya pemerintah untuk menjaga stabilitas harga energi sembari mendukung sektor-sektor yang berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat.
Menghadapi Ketidakpastian Global
Dengan berbagai perubahan yang terjadi di pasar energi global, pemerintah Indonesia perlu menjalankan kebijakan yang adaptif. Bahlil menekankan pentingnya untuk mengikuti perkembangan situasi secara terus-menerus dan melakukan penyesuaian strategi agar dapat menghadapi ketidakpastian tersebut. “Kita harus siap dengan berbagai skenario yang bisa terjadi,” pungkasnya.
Upaya pemerintah dalam menyusun RAPBN 2027 ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai strategi pengelolaan energi dan memperkuat sektor migas dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.





