Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Dituding Berafiliasi Timses Ganjar, Aliansi BEM Soroti Isu Ini!

Jakarta, Maret.id — Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Tahun 2025, Tiyo Ardianto, kini menghadapi kritik tajam dari Aliansi BEM Bersatu. Kritik ini muncul setelah Tiyo mengungkapkan bahwa mobilnya telah dipasangi alat pelacak dan alat sadap.
Aliansi BEM Bersatu Menyuarakan Penolakan
Rahmat Djimbula, juru bicara BEM Fakultas Bersatu, menyatakan sikap tegas bahwa mereka menolak segala bentuk pergerakan mahasiswa yang dipengaruhi oleh kepentingan politik praktis. “Gerakan mahasiswa harus selalu menjadi suara rakyat, bukan alat elite dalam perebutan kekuasaan,” tegasnya saat memberikan keterangan kepada media.
Tanggapan dari Aliansi BEM Bersatu ini bukan hanya masalah alat pelacak, tetapi juga menyoroti arah gerakan mahasiswa yang dinilai semakin kehilangan fokus. Mereka menganggap banyak aksi mahasiswa akhir-akhir ini yang tidak disertai dengan riset yang kuat, argumentasi yang lemah, dan tuntutan yang jelas.
Penilaian Terhadap Aksi Mahasiswa
Menurut Djimbula, situasi ini membuka pertanyaan tentang integritas gerakan mahasiswa. Apakah mereka masih berpihak pada kepentingan rakyat atau justru terjebak dalam agenda politik tertentu? “Kami menilai ada faktor-faktor utama yang perlu dicermati dalam kondisi ini,” ucapnya.
Salah satu poin yang diangkat adalah prioritas isu yang diangkat oleh mahasiswa. Dalam berbagai isu penting yang melanda masyarakat, perhatian justru terlihat teralihkan ke isu-isu yang bukan merupakan urgensi utama. Sementara itu, program-program yang secara langsung berdampak pada kesejahteraan masyarakat justru diarahkan pada penolakan, meskipun ada kebutuhan mendesak untuk memperbaiki regulasi terkait.
Kritikan Terhadap Mobil Tiyo Ardianto
Di tengah kontroversi ini, pihak Aliansi BEM Bersatu juga mempertanyakan kepemilikan mobil Toyota Fortuner yang dimiliki Tiyo Ardianto. Mobil tersebut dituding memiliki keterkaitan dengan tim pemenangan salah satu calon presiden, Ganjar Pranowo, menjelang Pilpres 2024.
“Ini adalah salah satu bentuk kritik kami terhadap arah politik yang sedang diambil,” kata Djimbula. Mereka merasa bahwa keterlibatan sosok-sosok tertentu dalam pergerakan mahasiswa dapat memunculkan dugaan bahwa gerakan tersebut tidak sepenuhnya independen.
Melihat perkembangan ini, banyak pihak berharap agar mahasiswa tetap fokus pada isu-isu yang benar-benar krusial bagi masyarakat. Aliansi BEM Bersatu berusaha mengingatkan pentingnya integritas dan ketulusan dalam berjuang untuk kepentingan rakyat, bukan demi agenda politik yang menguntungkan sekelompok elite.
Kehadiran Aliansi BEM Bersatu dalam diskusi ini tentu menambah warna dalam dinamika mahasiswa di Indonesia, mengingat pentingnya suara mahasiswa sebagai bagian dari upaya mendorong perubahan sosial. Dalam konteks yang lebih luas, diharapkan mahasiswa mampu menjadi agen perubahan yang efektif dan tidak terpengaruh oleh kepentingan politik praktis.





