Manuver PAC Nguntoronadi Bersih

Jakarta, Maret.id — Pada Selasa (14/6/2026), Pengurus Anak Cabang (PAC) dan Ranting Nguntoronadi melaksanakan aksi bersih-bersih di Situs Dewi Sri yang terletak di Desa Simbatan, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Magetan. Dalam kegiatan ini, para kader armed with sapu, cangkul, dan alat kebersihan lainnya berkomitmen untuk merawat salah satu warisan budaya yang memiliki makna penting bagi sejarah peradaban di Jawa Timur.
Inisiatif Bersih-Bersih yang Bersejarah
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara PAC Nguntoronadi dengan pengurus DPC PDI Perjuangan Magetan di bawah pimpinan Hendrad Subiyakto. Kegiatan ini juga dilaksanakan dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno sebagai representasi niat tulus dari kader partai dalam menjaga cagar budaya yang ada.
Ketua PAC Nguntoronadi, Haryanto, menyatakan bahwa merawat situs sejarah bukanlah sekadar agenda simbolis, melainkan merupakan langkah konkret sesuai pesan Bung Karno tentang pentingnya kepribadian dalam kebudayaan (Trisakti). “Dengan semangat gotong royong, kami di sini bersama masyarakat berkomitmen untuk menjaga kelestarian yang merupakan bagian dari budaya bangsa,” ungkap Haryanto.
Makna Spiritual di Balik Situs Dewi Sri
Situs Dewi Sri dikenal oleh masyarakat sebagai sumber air purbakala yang kaya akan nilai spiritual. Dalam kosmologi Jawa, Dewi Sri berperan sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran. Keberadaan petirtaan kuno ini tergolong sangat langka di Jawa Timur, sehingga upaya pelestariannya menjadi hal yang mendesak.
Hendrad Subiyakto, yang turut mempelopori kegiatan ini, menggarisbawahi pentingnya generasi muda untuk memahami warisan leluhur mereka secara benar. Ia menjelaskan bahwa Situs Dewi Sri di Desa Simbatan lebih dikenal sebagai peninggalan dari Mataram Kuno, bukan sebagai peninggalan utama dari Majapahit.
Menjaga Jati Diri dan Karakter Bangsa
Tantangan utama bagi PAC Nguntoronadi saat ini adalah hilangnya jati diri dan karakter bangsa di kalangan generasi muda akibat pengaruh modernisasi yang begitu kuat. Dengan mengadakan aksi gotong royong di situs cagar budaya ini, para kader bertekad untuk menunjukkan betapa pentingnya menghargai sejarah.
Haryanto berharap gerakan ini bisa menghidupkan kembali “Jiwa Soekarno” yang nasionalis dan mencintai akar budayanya. Hal ini dianggap sangat penting sebagai fondasi mental dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Selain membersihkan area petirtaan, kegiatan ini juga berfungsi sebagai ruang dialog untuk mempererat silaturahmi antara kader PAC, ranting, warga lokal, serta pihak pemerintahan desa.
Ke depan, PAC Nguntoronadi berharap bahwa gerakan berbasis komunitas semacam ini dapat terus berlanjut demi menjaga ketahanan budaya di tingkat lokal. Kegiatan seperti ini menjadi bagian penting untuk mendukung pelestarian sejarah dan budaya di Indonesia.





