Tiyo Ardianto Disenggol Budiman Sudjatmiko, Mahasiswa UGM Protes Secara Besar

Jakarta, Maret.id — Kericuhan terjadi di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Rabu (17/06) saat acara diskusi bertajuk “Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia”. Diskusi yang dihadiri oleh beberapa pejabat penting, termasuk Kepala BP Taskin RI, Budiman Sudjatmiko, Menteri ATR/BPN RI, Nusron Wahid, dan Wakil Menteri, tidak berjalan sesuai rencana.
Penyebab Kemarahan Mahasiswa
Insiden mulai terjadi ketika Budiman Sudjatmiko menyinggung Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM 2025, Tiyo Ardianto. Pernyataan tersebut dianggap melukai solidaritas mahasiswa terhadap Tiyo yang juga merupakan alumni UGM. Mahasiswa sempat berteriak untuk mengecam Sudiatmiko yang dinilai memiliki pandangan berlawanan dengan semangat diskusi yang sedang berlangsung.
Teriakan mahasiswa semakin menguat ketika Budiman menyebutkan, “Saya pernah ditelepon Pak Prabowo, beliau bilang, ‘jangan terpancing personal terhadap kritik.’” Pernyataan ini memicu kemarahan lebih lanjut, di mana mahasiswa berteriak, “Budiman Sudjatmiko adalah pengkhianat reformasi!” Mereka meminta semua pejabat untuk meninggalkan acara tersebut.
Protes Terhadap Program Pemerintah
Kondisi semakin tak terkendali ketika mahasiswa lainnya mulai menyinggung program kerja kabinet Prabowo Subianto, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka melabeli anggota pemerintah tersebut dengan sebutan “satuan penjilat Prabowo Gibran”. Hal ini menunjukkan ketidakpuasan mahasiswa terhadap sikap pemerintah dalam menjalankan program yang dinilai tidak sesuai dengan harapan rakyat.
Budiman Sudjatmiko, yang pernah menjadi tokoh sentral gerakan mahasiswa pro-demokrasi, kini dipandang berbeda oleh banyak mahasiswa UGM. Sebelumnya, ia dikenal sebagai aktivis yang melawan rezim Orde Baru dan dijatuhi hukuman penjara selama 13 tahun atas tuduhan terlibat dalam kerusuhan Juli 1996.
Konteks Sejarah dan Aspirasi Mahasiswa
Mempertimbangkan latar belakang Budiman yang pernah mendirikan Partai Rakyat Demokratik (PRD) pada tahun 1996, banyak mahasiswa yang merasa betul-betul kecewa. PRD selama ini dikenal memperjuangkan hak asasi manusia dan keadilan sosial, sangat berseberangan dengan kebijakan pemerintah saat ini. Ketidakpuasan ini mencerminkan aspirasi mahasiswa yang ingin melihat perubahan nyata di Indonesia.
Dari insiden ini, terlihat jelas bahwa gelombang kritik terhadap pemerintah bukan hanya berasal dari luar akademisi, tetapi juga dari dalam kampus. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa masih memiliki peran penting dalam mengawasi dan mengkritisi kebijakan yang dijalankan oleh pemerintah.
Situasi di UGM menjadi gambaran bagaimana mahasiswa tidak hanya mengedepankan diskusi akademis, tetapi juga memiliki semangat juang dalam memperjuangkan nilai-nilai demokrasi dan keadilan sosial yang diharapkan berlaku di Indonesia.





