BEM Bersatu Bongkar Dugaan Kepemilikan Mobil Tiyo Ardianto oleh Besan Andhika Perkasa!

Jakarta, Maret.id — Juru Bicara BEM Bersatu, Rahmat Djimbula, mengungkapkan bahwa kendaraan yang digunakan oleh Tiyo Ardianto dalam aksi penolakan terhadap Program MBG memiliki rekam jejak kepemilikan yang mencurigakan. Ia menyatakan bahwa mobil Fortuner yang digunakan terdaftar atas nama Siti Nuraeni, adik dari Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso, yang dikenal sebagai besan Jenderal TNI (Purn) Andhika Perkasa.
Indikasi Keterlibatan Politisi
Rahmat menekankan bahwa terdapat indikasi kuat keterlibatan aktor politik dalam gerakan penolakan ini. Dalam konferensi pers yang diadakan di Jakarta pada 16 Juni 2026, ia menerangkan bahwa kehadiran politisi dari PDI Perjuangan, Andi Widjajanto, selama aksi tersebut semakin memperkuat dugaan adanya agenda politik praktis di balik protes tersebut.
“Dalam konteks ini, kami sangat prihatin dengan arah gerakan yang seharusnya murni peduli akan kepentingan masyarakat, tetapi justru dimanfaatkan untuk kepentingan politik tertentu,” tegas Rahmat.
Kedekatan dengan Purnawirawan Jenderal
BEM Bersatu juga menyoroti adanya kedekatan jaringan antara para pemimpin aksi dengan purnawirawan jenderal. Hal ini mencuat setelah terungkapnya kehadiran Tiyo Ardianto dalam acara Dialog Nasional Kebangsaan di Bandung, di mana Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso juga hadir bersama sejumlah tokoh ternama seperti Said Didu dan Roy Suryo.
“Jejaring ini menunjukkan sinyal yang perlu dicermati, karena dapat mencederai kemurnian gerakan mahasiswa,” lanjut Rahmat, disertai dengan harapan agar gerakan mahasiswa tidak terpengaruh oleh kepentingan elit.
Pertanyaan Terhadap Urgensi Gerakan
BEM Bersatu mempertanyakan substansi dari gerakan penolakan yang saat ini tengah berlangsung. Organisasi ini menilai bahwa kebutuhan mendasar masyarakat saat ini lebih mendesak dibandingkan dengan isu yang diangkat oleh kelompok aksi.
Rahmat juga menyayangkan bahwa Program MBG, yang dianggap sebagai upaya signifikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, malah menjadi sasaran kritik. Meskipun ia mengakui bahwa perbaikan tata kelola program tersebut tetap perlu dilakukan, ia menekankan bahwa gerakan mahasiswa seharusnya fokus pada isu-isu yang berimplikasi langsung terhadap kualitas hidup masyarakat.
“Kami menolak segala bentuk mobilisasi mahasiswa yang ditunggangi oleh kepentingan elite demi perebutan kekuasaan,” pungkas Rahmat. Ia menegaskan bahwa suara mahasiswa harus tetap mencerminkan aspirasi rakyat dan bukan alat bagi kepentingan politik tertentu.





