PBB Peringatkan Dana Bantuan Anjlok, Krisis Kelaparan Yaman Memanas!

Jakarta, Maret.id — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan situasi kemanusiaan di Yaman semakin kritis akibat memburuknya krisis pangan dan menipisnya dukungan donor internasional.
Badan Kemanusiaan PBB melaporkan lonjakan tajam angka kekurangan pangan dalam sebulan terakhir yang terkait langsung dengan penurunan signifikan aliran dana kemanusiaan.
Lonjakan Kelaparan dan Data Terbaru
Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat, Tom Fletcher, menyampaikan bahwa persentase warga yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan dasar naik dari sekitar 50 persen menjadi hampir 60 persen hanya dalam kurun waktu satu bulan.
Fletcher menyebutkan, “Lebih dari 18 juta orang, lebih dari setengah populasi negara itu, kini mengalami kelaparan akut,” saat memberikan pengarahan di Dewan Keamanan PBB pada Selasa, 16 Juni 2026.
Angka yang disampaikan juga menunjukkan peningkatan proporsi warga yang mengalami kondisi kelaparan paling ekstrem, bergerak dari satu banding empat menjadi hampir satu banding tiga.
Kenaikan itu menggambarkan eskalasi darurat yang menuntut respons cepat dan tambahan sumber daya dari komunitas internasional.
Ketimpangan Wilayah dan Kekosongan Data
Analisis lapangan menunjukkan ketimpangan tajam antarwilayah di Yaman, dengan wilayah yang berada di bawah kendali pemerintah resmi menanggung beban berat kelaparan parah.
Di kawasan-kawasan tersebut tercatat sekitar lima juta orang berada dalam jeratan kelaparan parah, dan lebih dari seperempat populasi setempat kini berada pada status kerawanan pangan tingkat darurat.
Sementara itu, data komprehensif dari wilayah yang dikuasai kelompok Houthi belum tersedia secara memadai, tetapi PBB menegaskan bahwa ketiadaan data bukanlah indikasi kondisi yang membaik di sana.
Fletcher memperingatkan bahwa kurangnya informasi menyulitkan penyusunan intervensi yang tepat sasaran dan dapat memperparah krisis jika akses kemanusiaan tidak segera diperluas.
Seruan Bantuan, Keamanan Pekerja Kemanusiaan, dan Akses
PBB mendesak komunitas internasional segera mengalokasikan dana tambahan karena realisasi permohonan dana kemanusiaan global untuk Yaman saat ini masih di bawah 15 persen dari kebutuhan lapangan.
Selain kebutuhan dana, Fletcher juga menekankan pentingnya keselamatan pekerja kemanusiaan, penjaminan akses tanpa hambatan, serta dukungan terhadap proses perdamaian untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan bantuan berkelanjutan.
Dalam pengarahan tersebut, Fletcher menyebutkan adanya penahanan staf PBB dan pekerja kemanusiaan oleh otoritas de facto Houthi, dengan 73 anggota staf PBB masih ditahan secara sewenang-wenang menurut laporan.
Ia menyerukan pembebasan para sandera dan penghormatan terhadap hukum humaniter internasional sebagai prasyarat agar bantuan dapat dikirimkan dengan aman ke seluruh wilayah terdampak.
Krisis kemanusiaan di Yaman merupakan dampak langsung konflik berkepanjangan yang bermula pada 2014 dan berkembang menjadi perang saudara berskala besar pada 2015.
Bertahun-tahun pertempuran telah melumpuhkan jalur impor pangan, menghancurkan infrastruktur vital, dan merusak layanan publik yang membuat negara sangat bergantung pada bantuan internasional.
Akibatnya, ekonomi yang bergantung pada pasokan luar runtuh dan jutaan warga dipaksa bertahan hidup bergantung pada bantuan darurat.
PBB memperingatkan bahwa jika tren pendanaan dan akses tidak berubah, tingkat kelaparan dan kerawanan kesehatan akan terus meningkat dengan dampak jangka panjang bagi stabilitas wilayah.
Para analis kemanusiaan menegaskan perlunya langkah terpadu: peningkatan pendanaan, jaminan keamanan bagi staf bantuan, serta negosiasi politik untuk membuka koridor kemanusiaan.
Tanpa tindakan segera dari donor internasional dan kemauan politik untuk melindungi dan memfasilitasi bantuan, situasi di Yaman berpotensi berkembang menjadi krisis kemanusiaan yang lebih parah dan meluas.





