Politik

Mahasiswa Jangan Bangga Hancurkan Diskusi Tanpa Menawarkan Solusi!

Jakarta, Maret.id — Guru Besar Ilmu Kebijakan Publik Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Prof. Andy Fefta Wijaya, menilai bahwa peristiwa yang terjadi baru-baru ini telah memunculkan polemik mengenai kebebasan akademik. Selain itu, ia mengingatkan pentingnya peran ideal kaum intelektual di kalangan sivitas akademika.

Mahasiswa, menurut Andy, harus memiliki legitimasi moral yang tidak hanya muncul dari keberanian untuk mengkritik kekuasaan, tetapi juga dari kemampuan untuk menyajikan gagasan alternatif serta menjaga kualitas demokrasi. “Legitimasi moral mahasiswa tidak hanya lahir dari keberanian mengkritik kekuasaan, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan gagasan alternatif dan menjaga kualitas ruang demokrasi,” ungkap Andy dalam keterangan tertulisnya.

Diskusi yang Terhambat dan Respons yang Diharapkan

Diskusi yang menghadirkan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan, Budiman Sudjatmiko, serta Menteri ATR/BPN, Nusron Wahid, dan Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, seharusnya tidak ditanggapi dengan cara pembubaran. Ia menegaskan bahwa legitimasi moral gerakan mahasiswa selama ini dibangun dari keberanian menyuarakan kritik, tetapi juga dari kapasitas untuk menawarkan solusi atas berbagai persoalan bangsa.

“Mahasiswa dihormati karena daya kritisnya, bukan karena kemampuannya menghentikan percakapan,” tegas Andy. Ia menambahkan, sejarah mencerminkan bahwa gerakan mahasiswa memperoleh tempat terhormat ketika mampu mengartikulasikan aspirasi masyarakat melalui argumen yang kuat dan rekomendasi yang valid.

Perluasan Ruang Dialog di Lingkungan Akademis

Di tengah polarisasi politik dan derasnya arus informasi, Andy menilai Indonesia justru memerlukan lebih banyak ruang untuk dialog daripada menutup sekat-sekat yang ada. Pendapat ini sangat relevan dalam konteks pasca pembubaran diskusi di Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia menyatakan bahwa penghentian sebuah forum ilmiah bisa menghilangkan kesempatan untuk menguji gagasan secara terbuka dan mempertemukan beragam perspektif.

Oleh karena itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga tradisi dialog di lingkungan kampus sebagai tanggung jawab bersama seluruh sivitas akademika. Hilangnya budaya diskusi, menurut Andy, tidak hanya akan berdampak pada kualitas pendidikan tinggi, tetapi juga dapat memengaruhi masa depan demokrasi di Indonesia.

Pentingnya Menjaga Budaya Diskusi

“Jika ruang dialog di kampus pun tidak lagi mampu kita jaga bersama, maka sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar sebuah forum diskusi, melainkan masa depan budaya demokrasi itu sendiri,” tandasnya. Pendapat ini menjadi seruan bagi seluruh elemen akademik agar berkolaborasi dalam menciptakan lingkungan yang kondusif untuk diskusi dan perdebatan yang konstruktif.

Dari pandangannya, upaya menjaga kebebasan akademik dan ruang dialog sangat krusial dalam menghadapi tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini. Dialog yang konstruktif dan terbuka diharapkan dapat menjadi jembatan untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi bangsa.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button