Anggota KKB Yahukimo Tewas Ditembak Saat Berusaha Melarikan Diri

Yahukimo, Maret.id — Tim gabungan dari Satgas Operasi Damai Cartenz dan Polres Yahukimo terlibat dalam insiden penembakan yang mengakibatkan tewasnya seorang anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) bernama AP, yang juga dikenal sebagai Y atau AS. Penembakan terjadi pada Rabu, 17 Juni 2026, setelah AP mencoba melarikan diri ketika akan ditangkap di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.
Penangkapan Berujung Tragis
AP merupakan Komandan Operasi Batalyon Muara Kali Heluk, yang terlibat dalam sejumlah tindakan kekerasan bersenjata di kawasannya. Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz, Kombes Pol. Yusuf Sutejo, mengungkapkan bahwa sebelum penembakan dilakukan, aparat telah memberikan peringatan sebanyak dua kali. “Namun, setelah kedua tembakan peringatan tidak diindahkan, tindakan tegas pun diambil sesuai dengan SOP,” jelas Yusuf.
AP masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) yang diduga terlibat dalam kasus penembakan terhadap Alexander Angket dan Naldy Magosa pada tanggal 28 April lalu. Beberapa hari kemudian, ia juga diduga terlibat dalam insiden penembakan terhadap Suhardin, meski dalam kejadian tersebut peluru mengenai sepeda motor korban tanpa melukai dirinya.
Penggeledahan dan Penemuan Barang Bukti
Sebelum berupaya menangkap AP, tim gabungan melakukan penggeledahan di sebuah rumah yang diyakini sebagai markas kelompok bersenjata tersebut. Penggeledahan berlangsung di belakang Gereja Metanoia, Kota Dekai. Dari lokasi tersebut, aparat berhasil mengamankan satu butir amunisi kaliber 5,56 mm, senjata tajam, busur, anak panah, serta berbagai barang yang diduga berkaitan dengan aktivitas KKB.
Selain itu, seorang pria berinisial HS berumur 28 tahun juga diamankan untuk dimintai keterangan. HS mengaku menyimpan amunisi yang diduga merupakan milik salah satu anggota HSSBI. “Informasi ini akan menjadi bagian dari pengembangan penyidikan guna mengungkap jaringan kelompok bersenjata di Yahukimo,” kata Yusuf.
Investigasi Berlanjut
Setelah memperoleh informasi mengenai keberadaan AP, tim gabungan mengejar yang bersangkutan di kawasan Pos Kilo 6, Distrik Dekai. Saat itu, AP terlihat mengendarai sepeda motor. Ketika petugas berusaha menghentikannya, ia justru melarikan diri ke dalam hutan.
Aparat kemudian memberikan dua kali tembakan peringatan, tetapi tidak berhasil menghentikan AP. “Maka, tindakan tegas dan terukur pun diambil. Dalam operasi tersebut, AP dinyatakan meninggal dan dievakuasi ke RSUD Dekai untuk proses lebih lanjut,” ungkap Yusuf.
Insiden ini menunjukkan tantangan yang dihadapi aparat keamanan dalam upaya menanggulangi kelompok bersenjata di Papua. Kasus ini juga menjadi pengingat pentingnya kolaborasi antara instansi untuk menciptakan keamanan dan ketertiban di daerah yang masih dilanda konflik.
