Tiyo Ardianto Bongkar Dugaan Settingan di Balik Tudingan Mobil Fortuner: Potong Telinga Saya!

Jakarta, Maret.id — Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) 2025, Tiyo Ardianto, baru-baru ini menghadapi sorotan publik terkait isu kepemilikan mobil mewah Toyota Fortuner. Isu ini mencuat setelah Tiyo mengungkapkan adanya alat pelacak dan alat sadap yang ditemukan di bawah mobilnya.
Klarifikasi Tiyo Ardianto
Tiyo Ardianto menjelaskan bahwa mobil tersebut bukanlah miliknya, melainkan mobil milik kerabatnya yang ia pinjam. Dalam suatu diskusi, Tiyo menjelaskan, “Saya pinjam mobil ini karena sejak mengalami beberapa teror, terutama pasca kasus Andri Yunus, saya merasa ada potensi serupa bisa terjadi pada saya.”
Pernyataan ini muncul setelah beberapa pihak menudingnya menggunakan mobil tersebut untuk kepentingan pribadi. Tiyo menegaskan bahwa kendaraan tersebut adalah pinjaman dan bukan aset pribadinya. Ia merasa perlu memberikan klarifikasi untuk menghindari kesalahpahaman.
Isu Settingan?
Lebih lanjut, Tiyo juga menyatakan bahwa isu mengenai mobilnya diduga sengaja dibuat untuk mengalihkan perhatian dari masalah lain. “Isu ini settingan entah digerakkan oleh kekuatan apa,” ungkapnya. Ia menantang siapa pun yang menyebarkan informasi tersebut untuk mempertanggungjawabkan tudingan bahwa ia sendiri yang memasang alat pelacak dan alat sadap itu.
“Potong telinga saya kalau saya membuat kebohongan publik, penjarakan saya. Alat tersebut seharusnya tidak bisa dikomersialisasikan semudah itu,” tambahnya. Pernyataan ini menunjukkan betapa seriusnya Tiyo menanggapi tuduhan tersebut.
Pernyataan BEM Fakultas Bersatu
Kedatangan Aliansi BEM Bersatu menuai reaksi di kalangan mahasiswa. Mereka menyatakan penolakan terhadap segala bentuk gerakan mahasiswa yang dinilai bermuatan politik praktis. Juru Bicara BEM Fakultas Bersatu, Rahmat Djimbula, menegaskan bahwa gerakan mahasiswa seharusnya berfokus pada kepentingan rakyat dan bukan hanya menjadi alat bagi elite dalam pengambilan keputusan.
“Kami, BEM Fakultas Bersatu, menolak segala bentuk pergerakan mahasiswa yang dipengaruhi kepentingan politik praktis. Gerakan mahasiswa harus selalu menjadi suara rakyat, bukan alat elite dalam perebutan kekuasaan,” katanya.
Sebagai bagian dari universitas yang terkenal dengan tradisi pembelaan hak dan suara mahasiswa, situasi ini menambah catatan penting mengenai dinamika pergerakan mahasiswa di Indonesia. Bagaimana respon masyarakat dan mahasiswa lainnya terhadap isu ini masih akan menjadi perhatian ke depan.





