Piagam Jakarta Dukung Muktamar NU untuk Keberlanjutan Prabowo

Jakarta, Maret.id — Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, atau yang akrab disapa Gus Lilur, menegaskan bahwa pemilihan pemimpin dalam Muktamar NU akan berpengaruh signifikan terhadap posisi organisasi tersebut sebagai penjaga keutuhan bangsa. Bagi Gus Lilur, setiap keputusan besar NU harus dievaluasi dari segi dampaknya bagi persatuan dan keutuhan masyarakat Indonesia.
Ia menggarisbawahi pentingnya Muktamar NU dalam konteks kebangsaan yang lebih luas, terutama di tengah dinamika geopolitik global yang kian kompleks dan tantangan kohesi sosial nasional. NU, dengan basis massa yang besar, memiliki tanggung jawab moral untuk berkontribusi dalam menjaga persatuan bangsa, ungkap Gus Lilur dalam keterangan yang disampaikan pada Kamis, 18 Juni 2026.
Muktamar Sebagai Pelajaran Berharga
Gus Lilur mengingat Muktamar ke-34 NU yang berlangsung di Lampung pada Desember 2021, yang menurutnya harus dijadikan pelajaran berharga untuk seluruh warga nahdliyin. “Muktamar ke-34 Lampung harus jadi pelajaran pahit yang tidak boleh dilupakan. Salah memilih pemimpin, dampaknya sangat fatal bagi NU; organisasi bisa terpecah dan terseret arus korupsi serta nafsu kuasa,” tegasnya.
Ia juga menyebutkan semangat para tokoh Islam saat melakukan perubahan rumusan Piagam Jakarta pada 18 Agustus 1945. Menurutnya, tindakan mencoret tujuh kata dalam Piagam Jakarta bukan merupakan kekalahan, namun justru mencerminkan sikap kenegarawanan yang lebih memprioritaskan kepentingan bangsa ketimbang kepentingan kelompok.
Kepemimpinan NU dan Dukungan Pemerintah
Dalam konteks ini, Gus Lilur berpendapat bahwa kepemimpinan NU selanjutnya perlu mendukung keberlanjutan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Ia menyatakan, pasangan Prabowo dan Gibran telah berhasil meredam polarisasi yang sempat mengemuka di masyarakat, menciptakan harmoni di tengah perbedaan.
“Kita sudah melihat jejaknya, polarisasi antara yang disebut cebong dan kampret, serta rivalitas antarinstitusi keamanan negara, yaitu TNI dan Polri. Prabowo dan Gibran menyatukan itu semua,” urai Gus Lilur, merujuk pada pentingnya stabilitas pemerintahan di tengah dinamika sosial yang berubah cepat.
Dukungan untuk Calon Pemimpin NU
Gus Lilur juga secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Prof Nasaruddin Umar untuk menduduki kursi Ketua Umum PBNU. Ia menyarankan agar posisi Rais Aam diisi oleh Prof Said Aqil Siradj, dengan menekankan bahwa keduanya merupakan sosok ulama dan cendekiawan yang memiliki kapasitas untuk mengangkat nama NU di panggung global.
“Keduanya profesor asli, ulama tulen, cendekia sejati yang bisa mengharumkan NU di panggung global, dan NU ini kaya tokoh. Jangan sampai yang tampil justru yang itu-itu saja karena faktor politik,” tandasnya, menekankan pentingnya pemilihan pemimpin yang tepat demi masa depan organisasi yang lebih mengesankan.





